Jakarta – Gangguan pada aorta, pembuluh darah terbesar yang membawa darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh tubuh, menjadi kondisi yang berbahaya selain serangan jantung. Gangguan ini dapat menghambat aliran darah ke organ vital seperti otak, hati, dan ginjal, sehingga berpotensi menyebabkan kondisi serius yang mengancam nyawa. Namun, gangguan pada aorta sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga sulit terdeteksi sejak dini.
Dr. dr. Yan Efrata Sembiring, Sp.B., SpBTKV(K) – VE dari Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, “Aorta ibarat sebuah pipa utama distribusi air di rumah. Jika pipa utamanya bermasalah, seluruh sistem bisa ikut terganggu. Agar bisa berfungsi dengan baik, aorta harus kuat dan elastis untuk menahan tekanan setiap kali jantung berdetak.”
Menurut dr. Yan, berbagai faktor dapat melemahkan aorta, seperti tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok, pola makan tinggi kolesterol, diabetes, usia, dan faktor genetik. “Faktor penyebab yang paling sering ditemukan adalah tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol. Kondisi ini dapat membuat dinding aorta melemah karena terus-menerus menerima tekanan yang tinggi,” tambahnya.
Gangguan pada aorta meliputi aneurisma aorta, yaitu pelemahan dinding aorta yang menonjol seperti balon dan berisiko pecah hingga menyebabkan perdarahan hebat. Aneurisma ini bisa terjadi di dada maupun perut dan biasanya tidak menimbulkan gejala sampai ukurannya membesar. “Banyak pasien tidak merasakan keluhan apa pun dan baru datang ke IGD saat pembuluhnya sudah pecah,” kata dr. Yan.
Selain itu, ada diseksi aorta, kondisi di mana lapisan dalam dinding aorta robek sehingga darah masuk ke celah robekan dan memisahkan lapisan dinding pembuluh darah. Kondisi ini disertai nyeri dada atau punggung hebat yang terasa seperti disobek dan merupakan kegawatdaruratan medis yang harus segera ditangani.
Pengerasan atau penyempitan aorta akibat penumpukan plak lemak (aterosklerosis) juga menjadi gangguan yang menghambat aliran darah dan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke. Beberapa kasus disebabkan oleh kelainan bawaan.
Dr. Yan mengingatkan pentingnya pemeriksaan segera jika mengalami keluhan seperti nyeri dada atau punggung hebat, nyeri perut berdenyut, pusing, sesak napas, denyut nadi tidak sama antara kanan dan kiri, hingga pingsan. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol tekanan darah, berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat rendah lemak, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Mayapada Hospital Surabaya menyediakan layanan jantung komprehensif melalui Heart and Vascular Center yang didukung tiga pilar utama. Pertama, Emergency Excellence dengan Chest Pain Unit yang fokus pada evaluasi dan penanganan awal nyeri dada, termasuk pemeriksaan awal gratis jika tidak ditemukan indikasi jantung dan rujukan lanjutan jika terindikasi penyakit jantung. Kedua, Advanced Treatment yang melayani gangguan pembuluh darah, irama jantung, dan kelainan struktur jantung dengan pendekatan terkini. Ketiga, Team-Based Management yang memastikan keputusan klinis dan rencana perawatan melalui kolaborasi multidisiplin dalam Cardiac Board.
Pendekatan ini memungkinkan tindakan tepat seperti Coronary Angiography (CAG), Percutaneous Coronary Intervention (PCI), penanganan gangguan katup dan vaskular jantung, irama jantung, hingga terapi gagal jantung lanjut dengan alat bantu pompa jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD). Layanan ini juga menyediakan Cardiac Advisor yang mendampingi pasien dan keluarga sejak awal hingga pemulihan.
Informasi lengkap mengenai layanan jantung di Mayapada Hospital dapat diakses melalui fitur Health Articles and Tips di MyCare, serta fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau detak jantung, kalori, langkah, dan Body Mass Index (BMI).















