Jakarta – Artis Acha Sinaga baru-baru ini membagikan pengalaman medis yang cukup mengejutkan. Perempuan berusia 36 tahun ini didiagnosis mengalami hydrosalpinx atau kondisi saluran tuba yang terpelintir, yang akhirnya mengharuskannya menjalani tindakan operasi.
Melalui unggahan di Instagram Stories, Acha menceritakan kronologi awal mula gejala yang ia rasakan. Semuanya bermula saat ia sedang menidurkan anak-anaknya di malam hari. Acha tiba-tiba merasakan sakit perut yang hebat. Awalnya, ia mengira itu hanyalah sakit maag biasa akibat konsumsi makanan pedas dan kopi di hari yang sama.
Namun, rasa sakit tersebut justru semakin menjadi-jadi. Meski sudah mencoba meminum obat lambung dan pereda nyeri, kondisinya tidak kunjung membaik. Bahkan, rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya harus menekuk tubuh. Sang suami, Andy, akhirnya memutuskan untuk segera membawa Acha ke UGD.
Sesampainya di rumah sakit, Acha mendapatkan observasi dan obat penahan sakit. Sayangnya, meski obat telah habis diberikan, rasa nyeri di perutnya tetap tidak hilang. Dokter kemudian menyarankan Acha untuk melakukan CT Scan, di mana saat itu muncul kecurigaan adanya kista berukuran sekitar 4 cm di dalam tubuhnya.
Acha pun dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, hasil pemeriksaan justru menunjukkan temuan berbeda, yakni saluran tubanya dalam kondisi bengkak dan terpelintir.
Merasa perlu mendapatkan kepastian, Acha memutuskan pindah ke rumah sakit lain. Di sana, ia menjalani prosedur MRI hingga akhirnya dokter mendiagnosisnya dengan hydrosalpinx.
“Lalu dia (dokter yang baru) menjelaskan aku itu ada hydrosalpinx. Kondisi di mana saluran tubaku terpelintir, jadi dokter bilang sakitnya seperti jari kejepit pintu karena darah enggak bisa lewat,” jelas Acha.
Acha menambahkan, dokter menjelaskan bahwa hydrosalpinx biasanya terjadi akibat infeksi dari vagina atau STD yang umumnya menyerang kedua saluran tuba. Namun, dalam kasus Acha, hanya satu saluran di sebelah kiri yang terdampak. Selain itu, hasil tes darahnya pun tidak menunjukkan adanya infeksi, sehingga kondisi ini menjadi teka-teki medis tersendiri bagi Acha.
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih mengalir:
Acha sempat merasa bingung karena hasil pemeriksaan menunjukkan angka CRP yang normal dan ia tidak mengalami demam. Kondisi ini biasanya dikaitkan dengan kista yang menghambat kehamilan, namun hasil MRI Acha justru menyatakan tidak ada kista sama sekali.
Dokter sempat menyarankan operasi pengangkatan saluran tuba. Namun, karena rasa sakit di perutnya sudah mereda, dokter memintanya pulang dan kembali untuk pemeriksaan lanjutan dua minggu kemudian.
“Dokter bilang, solusinya diangkat saluran tubanya. Tapi karena saat itu aku sudah enggak sakit, dia perbolehkan aku pulang dan kembali 2 minggu lagi untuk USG, sambil diberi antibiotik. Sejauh ini penjelasan dr. R ini yang paling masuk akal buat aku dan Andy. Akhirnya, kita pulang hari itu,” ungkap Bunda tiga anak ini.
Saat kontrol dua minggu kemudian, kondisi Acha memang membaik. Meski begitu, dokter tetap menyarankan operasi.
“Dua minggu lagi aku balik ke RS ketemu dr. R. Hasil ultrasound vaginanya menunjukkan tuba yang terpelintir ukurannya berkurang jadi 3 cm. Dokter bilang setelah minum antibiotik, ia tetap menyarankan aku operasi menggunakan metode laparoskopi, karena saluran tubaku itu sudah tidak ada gunanya lagi di situ,” tulisnya.
Namun, pada pemeriksaan terakhir, Acha mendapati saluran tubanya kembali membesar. Ia dan suami pun akhirnya memutuskan untuk segera menjalani operasi.
“Aku ajak Andy balik lagi untuk ultrasound karena aku mau lihat gimana kondisi saluran tubaku. Ternyata balik membesar lagi jadi 4 cm. Jadi akhirnya aku sama Andy sepakat untuk melakukan tindakan operasi, saluran tubaku dibersihkan dan diangkat,” jelasnya.
Sebagai informasi, menurut laman Radiopedia, hidrosalping merupakan salah satu faktor risiko torsi tuba fallopi, yakni kondisi ketika saluran tuba terpelintir. Pada kondisi ini, seorang perempuan bisa merasakan nyeri perut yang hebat secara tiba-tiba.
Dalam pemeriksaan ultrasonografi, dokter biasanya menemukan saluran tuba yang melebar dengan dinding menebal. Sementara pada CT scan, saluran tuba tampak terbelit dengan pelebaran lebih dari 15 milimeter (mm). Torsi tuba fallopi sendiri dapat memutus suplai darah tanpa memengaruhi ovarium, dan pada kebanyakan kasus, kondisi ini baru bisa didiagnosis melalui operasi laparoskopi.
Lalu, apa itu hidrosalping? Hidrosalping adalah kondisi medis yang dapat dialami perempuan di usia reproduktif. Dilansir dari Cleveland Clinic, hidrosalping didefinisikan sebagai kondisi penumpukan cairan di salah satu atau kedua tuba fallopi yang menyebabkan penyumbatan. Kondisi ini dapat mempersulit terjadinya kehamilan.
Sekitar 30 persen kasus infertilitas berkaitan dengan masalah pada tuba fallopi, di mana 10 hingga 20 persen di antaranya disebabkan oleh hidrosalping.
Ahli endokrinologi reproduksi, Dr. Amanda N. Kallen, menjelaskan bahwa banyak perempuan dengan kondisi hidrosalping tidak merasakan gejala apa pun. Akibatnya, kondisi ini sering kali baru terdeteksi ketika mereka mengalami kesulitan untuk hamil.
“Namun, bagi mereka yang mengalami gejala, hidrosalping dapat ditandai dengan keputihan yang tidak biasa, serta nyeri pada perut dan panggul yang cenderung memburuk saat periode menstruasi,” ujar Dr. Kallen seperti dikutip dari Medical News Today.
Penyebab Hidrosalping
Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya hidrosalping, di antaranya:
* Infeksi menular seksual (IMS)
* Endometriosis
* Infeksi pada saluran tuba
* Peradangan akibat radang usus buntu
* Jaringan parut akibat operasi radang usus buntu atau kondisi medis lainnya
* Riwayat operasi pada saluran tuba
Di antara berbagai faktor tersebut, infeksi yang tidak tertangani dengan baik menjadi penyebab paling umum. Bakteri berbahaya dapat merusak tuba fallopi dan memicu peradangan.
Kondisi ini juga sempat dialami oleh Acha Sinaga, yang membagikan pengalamannya saat didiagnosis menderita hidrosalping atau kondisi saluran tuba yang terpelintir.











