Pernahkah Bunda memperhatikan rekan kerja dari Gen Z yang sering berpindah-pindah perusahaan? Fenomena ini dikenal dengan istilah career lily pad. Yuk, kita bedah lebih dalam mengenai tren ini, Bunda.

Generasi Z kini tengah mengubah peta kesuksesan karier di tahun 2025. Bagi mereka, pekerjaan bukan lagi pusat identitas diri, melainkan sekadar sarana untuk mencapai stabilitas finansial.

Pergeseran pola pikir ini melahirkan tren career lily pad, yakni strategi berpindah kerja untuk mengumpulkan pengalaman dan keterampilan yang lebih luas. Tren ini juga diperkuat oleh konsep career minimalism, di mana Gen Z tidak lagi terobsesi mengejar jabatan tinggi jika tidak dibarengi dengan imbalan yang sepadan.

Berdasarkan laporan Glassdoor, sebanyak 68 persen Gen Z enggan mengambil posisi manajerial kecuali jika disertai dengan kenaikan gaji atau prestise yang jelas. Ambisi mereka tetap ada, namun kini jauh lebih selektif dan realistis.

Berikut adalah ulasan lebih lanjut mengenai tren career lily pad:

Meninggalkan Jalur Karier Linear
Selama puluhan tahun, kesuksesan selalu dikaitkan dengan menaiki tangga karier secara linear: loyal pada satu perusahaan, naik jabatan secara bertahap, dan membangun masa depan di satu tempat. Namun, model ini mulai ditinggalkan.

Gen Z lebih memilih jalur yang fleksibel dengan berpindah lintas posisi, divisi, bahkan industri. Konsep career lily pad menggambarkan perpindahan ini layaknya katak yang melompat dari satu daun ke daun lain. Setiap lompatan adalah langkah strategis untuk memperkaya pengalaman. Bagi Gen Z, nilai karier tidak lagi diukur dari jabatan, melainkan dari kemampuan beradaptasi dan keberagaman keterampilan.

Respon terhadap Ketidakpastian Ekonomi
Bagi sebagian perusahaan, tren ini mungkin dianggap mengganggu stabilitas. Namun bagi Gen Z, langkah tersebut adalah respon rasional terhadap kondisi pasar kerja yang kian tidak pasti.

Perkembangan teknologi seperti otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) membuat banyak pekerja khawatir akan keamanan karier mereka. Data menunjukkan sekitar 70 persen Gen Z merasa kehadiran AI memengaruhi rasa aman dalam bekerja. Hal ini mendorong mereka mencari jalur karier yang lebih tahan terhadap disrupsi. Dengan terus berpindah dan mempelajari hal baru, mereka merasa lebih siap menghadapi perubahan yang cepat.

Tidak Anti Jabatan, Hanya Lebih Selektif
Meski sering dianggap enggan menjadi pemimpin, faktanya Gen Z tetap memasuki posisi manajerial dengan tingkat yang hampir sama seperti generasi sebelumnya.

Saat ini, sekitar 10 persen posisi manajerial telah diisi oleh Gen Z. Namun, cara pandang mereka terhadap jabatan tersebut sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagi Gen Z, posisi manajer bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar satu langkah dalam perjalanan karier mereka. Mereka lebih mengutamakan manfaat nyata seperti kenaikan gaji, fleksibilitas, serta keseimbangan hidup yang sehat.

Generasi Side Hustle

Salah satu ciri khas yang menonjol dari Gen Z adalah keterlibatan mereka yang tinggi dalam side hustle atau pekerjaan sampingan. Berdasarkan survei Deloitte, 70 persen Gen Z rutin mengasah keterampilan baru setiap minggu, bahkan 67 persen di antaranya melakukannya di luar jam kerja.

Data dari Harris Poll pun memperkuat hal ini, di mana 57 persen Gen Z memiliki pekerjaan sampingan-angka yang melampaui generasi lainnya. Bagi mereka, side hustle bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan bagian integral dari identitas profesional. Fenomena ini muncul karena mereka belajar dari pengalaman generasi sebelumnya yang sering mengalami burnout dan ketidakstabilan ekonomi, sehingga Gen Z memilih untuk tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja.

Gaya Kepemimpinan yang Berbeda

Saat menduduki posisi manajerial, Gen Z membawa pendekatan yang lebih fleksibel. Mereka cenderung meninggalkan gaya kepemimpinan kaku dan micromanagement, lalu menggantinya dengan kolaborasi serta keseimbangan hidup. Sebanyak 31 persen pekerja memprediksi bahwa fleksibilitas jam kerja akan menjadi keuntungan utama di bawah kepemimpinan Gen Z, karena bagi mereka, work-life balance adalah standar dasar, bukan sekadar bonus.

Strategi Mengadopsi Tren Career Lily Pad

Pendekatan career lily pad kini mulai dilirik oleh berbagai generasi di tengah ketidakpastian ekonomi. Berikut adalah langkah-langkah untuk memaksimalkan strategi tersebut:

  1. Tentukan Prioritas Karier

Kesuksesan tidak melulu soal gaji atau jabatan. Bagi Gen Z, kesuksesan bisa diukur dari kreativitas, dampak sosial yang dihasilkan, hingga keseimbangan hidup yang terjaga.

  1. Cari Pengalaman Baru

Gen Z tidak hanya mengejar kesuksesan finansial, tetapi juga pengalaman kerja yang berharga. Pertimbangkan perpindahan lateral yang menawarkan pengalaman baru, alih-alih hanya terpaku pada promosi vertikal.

  1. Tingkatkan Keterampilan

Fokuslah pada pengembangan diri di setiap pekerjaan. Jika posisi saat ini tidak lagi memberikan ruang untuk belajar, mungkin inilah saatnya mencari peluang baru. Namun, tetaplah bijak dalam menilai kapan harus bertahan jika peluang berkembang masih tersedia di tempat kerja saat ini.

  1. Miliki Pekerjaan Sampingan

Selain itu, memiliki pekerjaan sampingan menjadi cara untuk memperluas cakrawala profesional.

Membangun berbagai sumber penghasilan melalui proyek sampingan atau pekerjaan lepas kini menjadi langkah yang sangat strategis. Cara ini tidak hanya memperkuat keamanan finansial, tetapi juga membuka pintu bagi peluang karier baru di masa depan.

Tren career lily pad membuktikan bahwa perubahan dalam dunia kerja bukanlah fenomena sesaat, melainkan sebuah pergeseran yang mendasar. Generasi Z tidaklah kehilangan ambisi, mereka hanya mendefinisikannya kembali agar lebih relevan dengan realitas zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *