Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih menarik dengan tetap mempertahankan informasi aslinya:
Benarkah Ejakulasi Rutin Bisa Menurunkan Risiko Kanker Prostat? Simak Faktanya
Banyak perdebatan mengenai hubungan antara aktivitas seksual dengan kesehatan prostat. Apakah benar ejakulasi yang rutin dapat memberikan dampak positif bagi tubuh? Berikut adalah poin-poin penting yang perlu Anda ketahui:
1. Peradangan berkurang
Salah satu manfaat yang sering dikaitkan dengan ejakulasi rutin adalah potensi penurunan tingkat peradangan di dalam tubuh. Hal ini dianggap sebagai salah satu mekanisme yang mungkin membantu menjaga kesehatan prostat.
2. Faktor usia menentukan
Penting untuk dipahami bahwa manfaat dari aktivitas seksual tidak bersifat mutlak bagi semua orang. Faktor usia memainkan peran krusial dalam menentukan bagaimana aktivitas tersebut memengaruhi risiko kesehatan seseorang.
3. Efek ejakulasi 21 kali dalam sebulan
Sebuah studi sempat menyoroti angka spesifik, yakni ejakulasi sebanyak 21 kali dalam sebulan. Frekuensi ini dikaitkan dengan potensi penurunan risiko kanker prostat pada pria, meskipun angka tersebut bukanlah jaminan mutlak bagi setiap individu.
4. Efek testosteron
Aktivitas seksual dan ejakulasi juga berkaitan erat dengan kadar hormon testosteron dalam tubuh. Hormon ini memiliki peran vital dalam fungsi reproduksi dan kesehatan pria secara keseluruhan, yang kemudian memengaruhi kondisi prostat.
5. Belum ada kesimpulan pasti
Meskipun ada berbagai temuan menarik, dunia medis hingga saat ini belum mencapai kesimpulan yang mutlak. Hubungan antara ejakulasi dan risiko kanker prostat masih terus diteliti lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya secara ilmiah.
Jakarta, CNBC Indonesia – Sering muncul informasi di internet yang menyebutkan bahwa risiko kanker prostat bisa ditekan dengan rutin ejakulasi. Mengingat kanker prostat merupakan jenis kanker terbanyak kedua yang menyerang laki-laki di dunia setelah kanker paru-paru, topik ini tentu menarik perhatian banyak pihak.
Daniel Kelly, dosen senior bidang biokimia di Sheffield Hallam University, menyoroti hal ini dalam tulisannya di The Conversation pada 15 April 2026. Dalam artikel berjudul “Benarkah sering ejakulasi bisa kurangi risiko kanker prostat? Jawabannya tidak sesederhana itu”, ia menjelaskan bahwa kanker prostat adalah kanker yang paling umum diderita laki-laki di Inggris. Sementara di Indonesia, data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022 mencatat estimasi kasus kanker prostat mencapai lebih dari 13 ribu.
Prostat sendiri merupakan organ reproduksi yang berfungsi memproduksi air mani, yakni cairan pembawa sperma saat ejakulasi. Karena fungsinya tersebut, muncul asumsi bahwa aktivitas ejakulasi yang sering dapat mengurangi risiko kanker pada organ ini.
Para peneliti pun telah lama mengkaji hubungan antara aktivitas seksual dengan risiko kanker prostat. Pertanyaan besarnya adalah: apakah sering ejakulasi benar-benar bisa menjadi pelindung bagi laki-laki?
Menurut Daniel Kelly, terdapat beberapa bukti terbaru yang mendukung gagasan tersebut, di antaranya:
1. Mengurangi Peradangan
Sebuah artikel berjudul Ejaculation Frequency and Prostate Cancer Risk: A Narrative Review of Current Evidence yang dimuat di ScienceDirect mengungkapkan temuan menarik. Dari 11 studi relevan selama 33 tahun terakhir, 7 di antaranya melaporkan adanya kaitan antara ejakulasi dengan penurunan risiko kanker prostat.
Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, hasil ini sejalan dengan teori bahwa ejakulasi rutin dapat membuang konsentrasi racun atau struktur kristal yang menumpuk di prostat, yang berpotensi memicu kanker.
Selain itu, ejakulasi diduga mampu mengubah respons imun di dalam prostat, sehingga peradangan-yang merupakan faktor pemicu perkembangan kanker-dapat berkurang. Aktivitas ini juga dianggap meningkatkan pertahanan imun terhadap sel tumor.
Dugaan lainnya, ejakulasi dapat meredakan ketegangan psikologis dengan menurunkan aktivitas sistem saraf. Hal ini dipercaya mampu mencegah sel-sel prostat membelah terlalu cepat, sehingga risiko sel berkembang menjadi kanker pun dapat ditekan.
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih menarik dengan tetap mempertahankan informasi aslinya:
Benarkah Ejakulasi Memengaruhi Risiko Kanker Prostat? Simak Faktanya
Meski ada indikasi bahwa ejakulasi dapat membantu menurunkan risiko kanker prostat, nyatanya terdapat berbagai faktor spesifik yang sangat menentukan hasil tersebut. Berikut adalah poin-poin penting yang perlu dipahami:
1. Peran Penting Faktor Usia
Usia menjadi variabel krusial dalam kaitan ini. Beberapa temuan menunjukkan bahwa manfaat perlindungan mungkin hanya diperoleh jika ejakulasi rutin dilakukan pada rentang usia tertentu, seperti 20-29 tahun, 30-39 tahun, hingga usia lanjut (50 tahun ke atas).
Di sisi lain, terdapat riset yang justru memperingatkan bahwa frekuensi ejakulasi yang terlalu tinggi di usia 20-an dapat meningkatkan risiko kanker prostat. Ada pula dugaan bahwa ejakulasi pada masa remaja-saat prostat masih dalam tahap perkembangan dan pematangan-memiliki dampak paling signifikan terhadap risiko kanker di masa depan.
2. Frekuensi 21 Kali Sebulan dan Efek Perlindungannya
Sebuah studi dari Harvard University berjudul Ejaculation Frequency and Risk of Prostate Cancer: Updated Results with an Additional Decade of Follow-up mengungkapkan temuan menarik: laki-laki yang berejakulasi 21 kali atau lebih dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat 31% lebih rendah dibandingkan mereka yang hanya berejakulasi empat hingga tujuh kali per bulan.
Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian di Australia, Sexual Factors and Prostate Cancer. Laki-laki yang berejakulasi rata-rata lima hingga tujuh kali seminggu memiliki kemungkinan 36% lebih kecil terkena kanker prostat sebelum usia 70 tahun, dibandingkan mereka yang berejakulasi kurang dari dua hingga tiga kali seminggu. Selain itu, studi CAPLIFE juga menunjukkan bahwa frekuensi ejakulasi lebih dari empat kali per bulan dapat memberikan efek perlindungan bagi kelompok usia dan pasien tertentu.
3. Pengaruh Hormon Testosteron
Daniel Kelly menekankan bahwa testosteron memegang peranan vital dalam proses ejakulasi dan kaitannya dengan kesehatan prostat. Berlawanan dengan anggapan umum, kadar testosteron yang tinggi justru tidak meningkatkan risiko kanker. Sebaliknya, konsentrasi testosteron yang rendah justru berisiko lebih tinggi.
Kondisi ini sangat terasa bagi mereka yang sudah terdiagnosis kanker prostat; kadar testosteron yang rendah cenderung memperburuk kondisi penyakit dan membuatnya lebih sulit ditangani. Dengan demikian, kadar testosteron yang tinggi diduga mampu menekan risiko kanker sekaligus menjaga motivasi seksual. Sayangnya, banyak penelitian mengenai ejakulasi dan kanker prostat belum mengukur kadar testosteron secara mendalam, sehingga hormon ini baru dianggap sebagai faktor yang mungkin berpengaruh.
4. Belum Ada Kesimpulan Mutlak
Hingga saat ini, Daniel Kelly menegaskan bahwa dari berbagai penelitian yang ada, belum ditemukan kesimpulan yang benar-benar pasti mengenai hubungan antara frekuensi ejakulasi dan risiko kanker prostat.
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih mengalir dan menarik, dengan tetap mempertahankan informasi aslinya:
Benarkah Sering Ejakulasi Bisa Mencegah Kanker Prostat? Ini Penjelasan Ahlinya
Kelly menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kesimpulan pasti yang menyatakan bahwa frekuensi ejakulasi dapat menurunkan risiko kanker prostat.
Ada sejumlah variabel yang membuat gambaran mengenai hal ini menjadi kabur. Mulai dari perbedaan populasi laki-laki yang diteliti, jumlah peserta yang dianalisis, hingga variasi metode pengukuran frekuensi ejakulasi-baik melalui hubungan seksual, masturbasi, maupun mimpi basah-semuanya memengaruhi hasil penelitian.
Salah satu kendala utamanya adalah ketergantungan pada laporan pribadi peserta. Data yang terkumpul sering kali merupakan hasil ingatan dari bertahun-tahun lalu, sehingga hanya menjadi perkiraan terbaik. Selain itu, data ini sangat dipengaruhi oleh pandangan pribadi maupun norma sosial terkait aktivitas seksual dan masturbasi, yang berpotensi memicu pelaporan yang berlebihan atau justru sebaliknya.
Selain itu, terdapat potensi bias dalam deteksi tumor prostat. Ada kemungkinan laki-laki yang sangat aktif secara seksual enggan memeriksakan diri ke rumah sakit karena khawatir pengobatan kanker akan mengganggu aktivitas seksual mereka. Akibatnya, laki-laki yang sering berejakulasi mungkin saja sebenarnya mengidap kanker prostat, namun tidak tercatat dalam data penelitian.
Terakhir, perlu dipertimbangkan bahwa mungkin bukan ejakulasi itu sendiri yang memberikan perlindungan. Bisa jadi, laki-laki yang lebih sering berejakulasi memiliki gaya hidup yang lebih sehat secara keseluruhan, sehingga risiko mereka terkena kanker pun menjadi lebih rendah.











