Jakarta, CNBC Indonesia – Selama ini, diabetes sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Namun, kenyataannya kondisi ini juga bisa menyerang anak-anak, dan tren kasusnya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Angka kejadian diabetes pada anak kini dilaporkan melonjak, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya. Situasi ini menjadi perhatian serius karena tidak bisa dianggap sepele.

Jika tidak terdeteksi sejak dini, diabetes pada anak dapat menimbulkan dampak yang cukup serius, Bunda. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penyakit ini bisa memicu komplikasi yang membahayakan.

Secara umum, terdapat dua jenis diabetes yang paling sering dialami anak, yakni Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan tipe 2. Keduanya memiliki penyebab serta karakteristik yang berbeda.

Lantas, apa saja perbedaan dari kedua tipe diabetes ini? Mari kita simak penjelasannya.

Mengenal 2 tipe diabetes pada anak

Dikutip dari akun Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (@idai_ig), jumlah kasus diabetes tercatat mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir. Bahkan, kenaikan ini terlihat lebih cepat pada salah satu tipe diabetes.

DM tipe 1 adalah kondisi ketika tubuh anak tidak mampu memproduksi insulin yang cukup, atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Hal ini terjadi akibat proses autoimun yang menyerang sistem tubuh. Tanpa insulin yang memadai, kadar gula darah atau glukosa akan meningkat, sehingga tubuh tidak bisa menggunakan glukosa sebagai sumber energi secara normal.

Sementara itu, DM tipe 2 terjadi ketika tubuh masih memproduksi insulin, namun kinerjanya tidak berjalan dengan baik. Kondisi ini dikenal sebagai resistensi insulin. Akibatnya, gula darah tetap tinggi karena sel-sel tubuh sulit merespons insulin untuk memasukkan glukosa. Dahulu, kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa, namun kini mulai banyak terjadi pada anak dan remaja.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, diabetes tipe 1 paling sering dialami oleh anak-anak.

Diabetes tipe 1 umumnya menyerang bayi, balita, hingga anak usia 5-7 tahun. Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada anak berusia di atas 10 tahun atau saat mereka mulai memasuki masa pubertas.

Lantas, apa saja gejala awal yang perlu diwaspadai orang tua?

Gejala Diabetes pada Anak

IDAI dan Kemenkes memaparkan beberapa tanda diabetes pada anak yang perlu diperhatikan. Meski gejala tipe 1 dan tipe 2 cenderung mirip dan sulit dibedakan, deteksi dini dapat dilakukan dengan mengenali ciri-ciri berikut:

1. Frekuensi buang air kecil meningkat
Secara normal, bayi buang air kecil setiap 1-3 jam atau 3-4 kali sehari. Saat anak berusia 3 tahun, frekuensinya bisa mencapai 12 kali sehari, lalu menurun menjadi 4-6 kali seiring bertambahnya usia. Jika anak buang air kecil jauh lebih sering dari biasanya-terlihat dari popok yang cepat penuh atau anak yang tiba-tiba sering mengompol-orang tua patut waspada.

2. Rasa haus yang berlebihan
Jika anak merasa haus terus-menerus, Bunda perlu berhati-hati. Kondisi ini terjadi karena tubuh kehilangan banyak cairan akibat sering buang air kecil. Akibatnya, anak akan terus merasa haus meski sudah banyak minum. Waspadai jika kondisi ini disertai gejala lain seperti muntah atau tanda-tanda dehidrasi.

3. Nafsu makan meningkat
Jangan terburu senang jika nafsu makan anak meningkat drastis. Kondisi ini bisa menjadi indikasi diabetes. Kadar insulin yang rendah atau tidak berfungsi optimal membuat gula dalam tubuh gagal diolah menjadi energi. Akibatnya, anak merasa cepat lapar, sebuah kondisi yang dikenal dengan istilah polifagia.

4. Penurunan berat badan tanpa sebab
Waspadai jika berat badan anak turun drastis tanpa alasan yang jelas, terutama jika dibarengi dengan nafsu makan yang meningkat. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengolah glukosa menjadi energi, sehingga tubuh terpaksa membakar cadangan energi lain seperti lemak dan otot.

5. Nyeri perut
Nyeri perut pada anak bisa menjadi salah satu gejala awal diabetes. Meski sering dianggap keluhan ringan, nyeri perut yang muncul berulang atau terjadi tanpa penyebab yang jelas sebaiknya tidak diabaikan.

Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih menarik dengan tetap mempertahankan gaya bahasa aslinya:

6. Anak tampak tidak bersemangat
Waspadai jika Si Kecil terlihat tidak bertenaga dan mengalami perubahan perilaku yang tidak biasa. Kondisi ini bisa menjadi sinyal penting, Bunda. Anak mungkin menjadi kurang antusias untuk bermain, sulit fokus saat beraktivitas, serta tampak kesulitan untuk berkonsentrasi dengan baik.

7. Luka pada tubuh sulit sembuh
Tanda berikutnya yang perlu diperhatikan adalah luka pada tubuh anak yang tak kunjung sembuh. Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dapat memicu penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, proses perbaikan sel tubuh menjadi terhambat, sehingga luka membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih.

8. Perubahan warna kulit menjadi menghitam
Perhatikan pula jika warna kulit anak tampak menggelap. Kondisi yang dikenal dengan istilah akantosis nigrikans ini ditandai dengan perubahan kulit yang menebal dan menjadi lebih gelap, terutama pada area lipatan-lipatan tubuh. Jangan abaikan perubahan fisik ini, ya, Bunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *