Jakarta – Kehamilan memang identik dengan berbagai perubahan fisik, mulai dari perut yang kian membuncit hingga payudara yang biasanya membesar sebagai persiapan menyusui. Namun, kisah seorang ibu bernama Gemma Fish justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Ia mengalami gejala yang tak biasa: ukuran payudaranya justru mengecil.
Awalnya, Gemma mengira perubahan tersebut adalah hal yang wajar selama kehamilan. Namun, siapa sangka, di balik gejala yang dianggap “tidak biasa” itu, tersembunyi kondisi medis yang serius. Berikut kisahnya.
Payudara mengecil saat hamil, awalnya dianggap wajar
Saat mengandung, Gemma menyadari salah satu payudaranya menyusut secara signifikan, bahkan hingga tiga ukuran cup lebih kecil dari sebelumnya. Meski begitu, ia tidak terlalu khawatir. Baginya, perubahan tubuh saat hamil adalah hal yang umum terjadi, sehingga ia menganggap kondisi tersebut hanyalah bagian dari proses alami kehamilan.
Padahal, secara medis, perubahan payudara saat hamil biasanya berupa pembesaran, bukan pengecilan. Hal ini terjadi karena hormon seperti estrogen dan progesteron sedang bekerja mempersiapkan tubuh untuk menyusui.
“Jelas, selama kehamilan, tubuh Anda berubah di setiap bagiannya. Saat hal-hal lain mulai stabil, salah satu payudara saya masih cukup besar, dan yang lainnya menyusut,” jelas wanita asal Manchester, Inggris ini.
Meski merasakan keanehan, ia terus mengabaikan perubahan tersebut hingga Januari 2023, atau 14 bulan setelah gejala pertamanya muncul. Saat itu, ia menyadari putingnya terbalik atau masuk ke dalam (inverted nipple).
“Saya masih menundanya sedikit lebih lama, tetapi kemudian memeriksakannya pada Februari 2023. Saya tidak akan pergi jika saya tidak menyadari bahwa puting saya terbalik. Saya masih menganggapnya sebagai perubahan yang terjadi selama kehamilan,” ungkap Gemma.
Barulah setelah itu ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Serangkaian pemeriksaan lanjutan seperti mammogram, USG, dan biopsi pun dilakukan. Hasilnya cukup mengejutkan, ia didiagnosis mengidap kanker payudara stadium awal.
“Begitu saya pergi ke dokter dan menjelaskan semuanya, saya bisa tahu dari raut wajahnya bahwa itu serius. Rasanya benar-benar tidak nyata. Saya berpikir, ‘Bagaimana saya akan menghadapi ini?’ Saya berpikir, ‘Saya seorang ibu tunggal, saya tidak mampu menangani logistik kesehatan saya’,” kenangnya.
Alih-alih berpikir ‘Saya akan mati karena ini,’ saya justru fokus pada pemikiran bahwa ini adalah tantangan yang harus dihadapi dan diobati,” kenang Gemma Fish.
Dari Stadium Awal ke Stadium Lanjut
Perjalanan medis Fish tidaklah mudah. Meski awalnya terdeteksi pada stadium 1, penyakitnya berkembang pesat. Setelah menjalani operasi, kemoterapi, dan radioterapi, kanker tersebut menyebar ke organ lain, yang membuatnya dikategorikan sebagai stadium lanjut.
Pada Maret 2023, Fish menjalani mastektomi tunggal pada payudara kanannya. Perawatan berlanjut dengan kemoterapi hingga Agustus 2023, disusul sesi radioterapi pada Oktober 2023. Namun, saat menjalani pengangkatan ovarium pada Januari 2024, dokter mengonfirmasi bahwa ia mengidap kanker payudara stadium 4.
“Saya diklasifikasikan sebagai penderita kanker payudara stadium empat, tetapi saya menganggapnya sebagai sebuah kemenangan karena penyakit itu ditemukan di laboratorium setelah ovarium saya diangkat,” ujar Gemma.
Pada Maret 2025, Fish kembali menjalani mastektomi, kali ini pada payudara kirinya. Meski belum melakukan operasi rekonstruksi dan mengakui bahwa ini adalah “penyesuaian yang sangat besar,” ia tetap tegar. Kanker yang dideritanya kini tidak lagi dapat disembuhkan, melainkan hanya bisa dikelola. Awalnya, diagnosis ini sangat sulit diterima, terutama karena ia adalah ibu tunggal bagi Rosie, putrinya yang kini berusia 4 tahun.
“Hidup dengan kanker stadium 4 saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ini bukan lagi vonis mati; banyak wanita yang bisa hidup lama dengan berbagai pengobatan. Saya sudah menyelesaikan semua persiapan untuk masa depan putri saya jika saya tidak ada di sini. Sekarang, kami fokus hidup sebahagia mungkin dan menikmati setiap momen yang ada,” tuturnya.
Mengapa Perubahan Payudara Harus Diwaspadai?
Perubahan payudara memang sering terjadi selama kehamilan, namun tidak semuanya bisa dianggap normal. Menurut studi dari National Cancer Institute, perubahan hormon saat hamil justru dapat membuat deteksi kanker payudara menjadi lebih sulit karena jaringan payudara menjadi lebih padat.
Selain itu, perubahan bentuk atau ukuran yang tidak biasa, terutama jika hanya terjadi pada satu sisi, bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan, seperti:
* Infeksi atau peradangan.
* Gangguan jaringan payudara.
* Kemungkinan kanker (meski jarang terjadi).
Gemma sangat menganjurkan siapa pun untuk segera memeriksakan diri jika menemukan perubahan sekecil apa pun pada payudara mereka. Baginya, pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan.
Ia pun berpesan, “Jangan pernah mengabaikannya. Jika saja saya bertindak lebih awal, tidak mengabaikannya, dan tidak berpura-pura…
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih menarik dengan tetap mempertahankan gaya bahasa aslinya:
Seandainya masalah tersebut terdeteksi lebih awal, tentu penanganannya bisa dilakukan jauh lebih cepat. Kisah ini menjadi pengingat penting bagi para Bunda bahwa gejala yang tampak “sepele” atau dianggap sebagai hal yang normal selama kehamilan, bisa saja menyimpan risiko serius jika terus diabaikan.











