Jakarta, CNBC Indonesia – Gaya kepemimpinan para bos perusahaan kini semakin menjadi sorotan. Batas antara rasa percaya diri yang sehat dan narsisme pun kian tipis. Di tengah menjamurnya sosok CEO yang karismatik namun ego-sentris, para peneliti berupaya menjawab satu pertanyaan krusial: bagaimana cara mendeteksi bos yang narsis?

Secara medis, narsisme dikenal sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa superioritas, haus akan pengakuan, serta minimnya empati, sebagaimana tertuang dalam pedoman psikiatri DSM. Namun, mengukur sifat ini pada level eksekutif bukanlah hal yang mudah.

Tes psikologi seperti Narcissistic Personality Inventory (NPI) memang lazim digunakan, namun hampir mustahil untuk diterapkan langsung kepada para pimpinan perusahaan. Oleh karena itu, para peneliti mengembangkan metode yang lebih halus dengan mengamati perilaku serta pola komunikasi para pemimpin tersebut.

Melansir The Conversation, salah satu pendekatan awal dilakukan dengan mengamati jejak narsisme melalui hal-hal sederhana. Contohnya, seberapa dominan foto CEO dalam laporan tahunan, frekuensi penyebutan nama mereka dalam siaran pers, hingga kecenderungan menggunakan kata “saya” dibandingkan “kami” saat sesi wawancara.

Bahkan, besaran gaji CEO dibandingkan dengan eksekutif lainnya dianggap sebagai indikator ego yang tinggi. Penelitian lebih lanjut kemudian memperluas indikator ini, mencakup panjang biografi resmi, jumlah penghargaan yang dipamerkan, hingga gaya tanda tangan.

Tanda tangan yang berukuran besar dan mencolok disebut-sebut memiliki korelasi dengan tingkat narsisme yang lebih tinggi. Berbagai indikator ini terbukti memiliki hubungan kuat dengan hasil tes psikologi klasik, sehingga dianggap cukup akurat untuk membaca kecenderungan narsistik tanpa perlu melakukan tes secara langsung.

Di era digital, media sosial pun membuka ruang baru untuk membedah karakter pemimpin. Platform seperti LinkedIn kini menjadi ladang data bagi para peneliti.

Beberapa indikator yang dianalisis meliputi jumlah foto profil, panjang deskripsi diri, banyaknya pengalaman kerja yang dicantumkan, hingga daftar keahlian dan sertifikasi. Semakin penuh dan menonjol profil tersebut, semakin besar kemungkinan adanya kecenderungan narsistik, meskipun hal ini tidak selalu berarti negatif.

Kendati demikian, peneliti tetap mengingatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *