Mengapa Banyak Pernikahan Kandas di Usia 8 Tahun? Ini Penjelasannya

Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena pernikahan yang berakhir di usia sekitar delapan tahun bukanlah kebetulan semata. Data biro sensus menunjukkan bahwa rata-rata usia pernikahan pertama yang berujung pada perceraian berada di angka 8,2 tahun. Angka ini sejalan dengan istilah populer yang sering kita dengar, yakni “seven-year itch”.

Namun, muncul pertanyaan menarik: mengapa titik kritis ini terjadi di tahun ketujuh atau kedelapan, bukan di tahun ke-10 atau ke-15?

Melansir Psychology Today, para peneliti seperti Daniel Levinson, George Vaillant, dan Gail Sheehy mengungkapkan bahwa perkembangan orang dewasa cenderung bergerak dalam siklus tujuh tahunan. Dalam setiap siklusnya, seseorang biasanya akan melewati fase stabil selama beberapa tahun, yang kemudian diikuti oleh periode kegelisahan dan transisi selama dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya melangkah ke tahap kehidupan berikutnya. Perubahan ini bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari perkembangan karier, rencana masa depan, proses penuaan, hingga dinamika hubungan dengan pasangan.

Pada awal pernikahan, setiap individu biasanya membawa kebutuhan psikologis tertentu. Misalnya, keinginan untuk mandiri dari orang tua, mencari stabilitas, memiliki anak, atau sekadar ingin merasa dicintai. Tanpa disadari, pasangan sering kali diposisikan sebagai sosok yang memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga terbentuklah semacam “kesepakatan tidak tertulis” dalam hubungan.

Di tahun-tahun awal, pasangan akan membangun kehidupan bersama melalui berbagai aturan dan rutinitas, mulai dari pembagian tugas rumah tangga, pola interaksi keluarga, hingga hubungan intim. Tahap ini menjadi fondasi stabilitas, meskipun tidak semua pasangan mampu melaluinya tanpa gesekan.

Masalah biasanya mulai muncul saat memasuki tahun kelima hingga kedelapan. Pada fase ini, salah satu atau kedua pasangan mulai merasakan kegelisahan. Kehidupan yang dulunya terasa nyaman, kini perlahan mulai tidak lagi relevan.

Hal ini terjadi karena kebutuhan yang dulu terpenuhi kini telah berubah seiring berjalannya waktu. Sayangnya, pasangan sering kali terjebak dalam pola kehidupan lama yang telah mereka bangun sebelumnya. Akibatnya, sifat pasangan yang dulu dianggap menarik justru berubah menjadi sumber konflik; sosok yang stabil kini dianggap kaku, sementara yang spontan justru dianggap tidak bertanggung jawab.

Inilah fase yang sering disebut sebagai “seven-year itch”. Pada titik ini, hubungan pernikahan kerap diuji dengan intensitas pertengkaran yang meningkat, jarak emosional yang melebar, hingga risiko perselingkuhan. Sinyal yang muncul pun serupa: hubungan terasa tidak lagi berjalan semestinya, dan salah satu pihak mungkin mendambakan awal yang baru.

Beberapa pasangan memilih untuk mengakhiri pernikahan, meski tak jarang mereka justru terjebak dalam siklus yang sama saat menikah kembali di kemudian hari. Namun, ada pula pasangan yang memilih jalan berbeda dengan menghindari konflik terbuka.

Alih-alih menghadapi masalah, mereka justru mengalihkan fokus ke hal lain seperti mengurus anak, mengejar karier, atau menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Akibatnya, esensi hubungan sebagai pasangan perlahan memudar dan berubah menjadi sekadar rekan dalam mengasuh anak atau individu yang tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Strategi “menghindar” ini mungkin bisa bertahan selama beberapa tahun, namun tidak pernah benar-benar menyentuh akar permasalahan. Ketika fase kehidupan berikutnya tiba-seperti saat anak beranjak remaja atau karier mencapai titik jenuh-perasaan gelisah dan terjebak itu akan muncul kembali, bahkan berpotensi memicu krisis paruh baya.

Meski terdengar suram, kondisi ini tidak harus berakhir dengan perceraian. Kuncinya terletak pada kesadaran untuk memahami perubahan kebutuhan dalam hubungan dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi bersama.

Pasangan tidak perlu benar-benar memulai dari nol. Mereka bisa memperbarui “kontrak” hubungan yang telah dibangun sejak awal. Langkah ini bisa dilakukan dengan membangun kerja sama yang lebih seimbang, memperbaiki kualitas komunikasi, menyesuaikan gaya hidup, serta mempererat kembali kedekatan emosional dan fisik.

Jika dirasa sulit untuk dilakukan sendiri, bantuan dari pihak ketiga seperti terapis atau konselor bisa menjadi solusi untuk membantu pasangan melewati fase krusial ini.

Pada akhirnya, fase tujuh hingga delapan tahun pernikahan merupakan titik balik penting dalam perjalanan psikologis pasangan. Cara Anda dan pasangan merespons fase ini akan menjadi penentu apakah hubungan tersebut akan terus berkembang atau justru harus berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *