Jakarta – Perut buncit menjadi keluhan umum yang dialami banyak orang akibat pola hidup tidak sehat, seperti kurang aktivitas fisik dan konsumsi makanan berlemak tinggi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memengaruhi penampilan dan menurunkan rasa percaya diri.
Selama ini, perut buncit sering dikaitkan dengan konsumsi nasi berlebihan. Namun, nasi bukan penyebab utama munculnya lemak di area perut. Ada beberapa kebiasaan yang berkontribusi membuat perut buncit, yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia.
Pertama, makan kerupuk. Kerupuk dianggap camilan ringan karena teksturnya renyah dan terasa “kosong”, padahal jika dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan perut buncit. Sebagian besar kerupuk terbuat dari tepung tapioka atau tepung lain yang tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat, sehingga cepat dicerna dan tidak memberikan rasa kenyang tahan lama. Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih banyak tanpa sadar, baik kerupuk maupun makanan pendamping lainnya.
Selain itu, kerupuk biasanya digoreng dalam minyak dan mengandung garam tinggi. Kombinasi lemak, natrium, dan kalori ini dapat memicu penumpukan lemak tubuh jika asupannya berlebihan dan tidak diimbangi aktivitas fisik. Kandungan garam juga membuat tubuh menahan cairan, sehingga perut terasa penuh dan tampak membuncit sementara.
Kerupuk sering dimakan sebagai pelengkap hampir di setiap waktu makan, mulai dari nasi goreng hingga bakso dan soto. Kebiasaan ini meningkatkan total asupan kalori harian tanpa terasa karena kerupuk jarang dianggap sebagai makanan utama. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam porsi besar, terutama bersama pola makan tinggi gula dan lemak serta kurang gerak, kebiasaan makan kerupuk dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan penumpukan lemak di perut.
Kedua, makan dekat waktu tidur. Idealnya, makanan terakhir dikonsumsi tiga jam atau lebih sebelum tidur. Ahli gizi dari The Nutrition Twins, Tammy Lakatos Shames dan Lyssie Lakatos, menjelaskan, “Saat kita tidur, kita mematikan pencernaan dan berusaha memperbaiki dan menyembuhkan tubuh. Jika ada makanan yang perlu dicerna, itu mengalihkan perhatian tubuh dari penyembuhan karena berfokus pada mencerna makanan.”
Saat tidur, tubuh berusaha menyimpan energi, memulihkan, dan memperbaiki. Kalori yang tidak dimanfaatkan dengan baik bisa berakhir menjadi lemak perut. Penelitian juga mengungkapkan bahwa makan terlalu larut mengacaukan ritme sirkadian dan berdampak negatif pada pengaturan gula darah serta metabolisme lemak.
Ketiga, konsumsi makanan manis. Makanan manis mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari es teh manis hingga camilan seperti martabak keju susu. Satu minuman kemasan bisa mengandung 25 gram gula. Tubuh menerima asupan kalori dan gula dalam jumlah besar dengan sedikit atau tanpa nilai gizi dalam sekali makan. Hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan dan penumpukan lemak, terutama di bagian perut.















