Jakarta – Kasus infeksi Hantavirus yang menyebabkan gangguan pernapasan serius dan kematian menjadi perhatian dunia. Virus ini terutama ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, dengan penularan pada manusia terjadi saat menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terpapar virus.
Hingga saat ini, belum ada obat atau vaksin untuk Hantavirus. Namun, pemerintah Inggris telah menugaskan para peneliti untuk mengembangkan vaksin hantavirus pertama di dunia.
Wabah terbaru yang menyerang penumpang kapal pesiar berbendera Belanda MV Hondius disebabkan oleh virus Andes, salah satu strain dalam kelompok hantavirus yang lebih luas. Sebelumnya, para peneliti di Universitas Bath, Inggris, telah mengembangkan vaksin mRNA baru untuk strain hantavirus lain, yaitu Hantaan. Uji laboratorium pada hewan menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Seorang ahli kimia di Universitas Bath sekaligus CEO EnsiliTech, Asel Sartbaeva, mengatakan, “Ini adalah antigen yang benar-benar baru, dan menunjukkan imunogenisitas yang sangat baik terhadap penyakit hantaan. Kami berharap ini akan menjadi antigen yang baik untuk digunakan dalam memproduksi vaksin virus hantaan di masa depan.”
Namun, apakah teknologi vaksin yang sama dapat melawan strain Andes yang mewabah di kapal pesiar masih belum diketahui. “Saat ini kami belum tahu apakah antigen yang telah kami kembangkan akan berguna melawan strain Andes. Kami berharap demikian, tetapi sampai kami mengujinya terhadap virus Andes, kami tidak akan tahu,” ujar Sartbaeva.
Pada 2024, pemerintah Inggris memberikan kontrak kepada tim peneliti untuk mengembangkan vaksin mRNA stabil termal pertama di dunia melawan virus hantaan. Vaksin ini menggunakan teknologi baru bernama ensilikasi, yang memungkinkan vaksin disimpan pada suhu lebih tinggi dari biasanya, berbeda dengan vaksin mRNA yang saat ini harus disimpan di suhu beku.
Sartbaeva menjelaskan, “Ini adalah teknologi yang dapat diterapkan pada banyak vaksin berbeda, dan dalam kasus ini, kami menerapkannya pada vaksin virus hantaan yang baru ini. Kami telah berhasil memindahkannya dari freezer -70 derajat Celcius ke lemari es dengan suhu 2 hingga 8 derajat Celcius, yang membuatnya jauh lebih mudah untuk dibawa. Harapan kami adalah membuatnya stabil secara termal untuk transportasi suhu ruangan di masa mendatang.”
Hingga Selasa (12/5/2026), WHO telah mengidentifikasi 11 kasus infeksi hantavirus, dengan sembilan kasus terkonfirmasi dan tiga kematian. Semua kasus tersebut merupakan penumpang kapal pesiar MV Hondius.















