Jakarta – Kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) memiliki peran penting dalam membangun hubungan antarindividu. Kemampuan ini membantu seseorang memahami perasaan, mengendalikan emosi, serta merespons situasi dengan bijak.
Namun, tidak semua orang memiliki tingkat EQ yang sama. Seseorang dengan EQ rendah biasanya menunjukkan tanda-tanda tertentu dalam kebiasaan sehari-hari. Mereka kerap kesulitan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain, yang akhirnya berdampak pada interaksi dan hubungan sosial.
Menurut psikolog Dr. Jenny Shields, orang dengan EQ rendah mudah stres karena kesulitan mengendalikan emosi. “Mudah stres sering kali menunjukkan defisit dalam pengaturan emosi. Mereka cenderung melebih-lebihkan durasi dan intensitas emosi negatif, sehingga menganggap stresor lebih berat dari kenyataannya,” ujarnya. Contohnya, kemunduran kecil di tempat kerja bisa dianggap sebagai akhir karier karena kurang mampu meredam kepanikan.
Psikolog Dr. Jaime Zuckerman menambahkan, orang dengan EQ rendah sering menghindari percakapan emosional karena tidak memiliki koneksi emosional yang dalam. “Mereka tidak berbagi emosi dan kesulitan mengaturnya, sehingga menghindari emosi sama sekali,” jelasnya. Hal ini membuat mereka sulit mendefinisikan emosi sendiri dan enggan membahas konflik, misalnya dengan pasangan.
Tanda lain adalah kecenderungan membuat lelucon yang merugikan orang lain. Shields menjelaskan, “Ini menunjukkan kekurangan empati kognitif, kemampuan memahami perspektif orang lain. Mereka mungkin gagal memprediksi bahwa lelucon tersebut akan dianggap penghinaan sosial.”
Orang dengan EQ rendah juga kurang peka terhadap perasaan orang lain. Mereka kesulitan membaca isyarat non-verbal seperti ekspresi wajah dan nada suara. Shields mencontohkan, “Mereka bisa terus berbicara tentang diri sendiri tanpa menyadari kekecewaan lawan bicara.”
Selain itu, mereka cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang dihadapi. Zuckerman menyatakan, “Mereka memiliki wawasan dan kesadaran yang buruk tentang keadaan emosional diri sendiri dan kurang menghargai emosi orang lain.”
Ledakan emosi yang tak terduga juga menjadi ciri EQ rendah. Shields menjelaskan, “Ledakan emosi dapat berasal dari granularitas emosi yang rendah, yaitu kemampuan membedakan emosi dengan tepat.”
Terakhir, orang dengan EQ rendah sering memendam dendam. Shields mengungkapkan, “Mereka terjebak pada interpretasi negatif dan gagal menilai ulang situasi dari perspektif berbeda, sehingga terus memutar ulang perasaan negatif.”
Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, diharapkan seseorang dapat lebih memahami pentingnya mengembangkan kecerdasan emosional demi hubungan yang lebih sehat dan harmonis.















