Jakarta – Event lari di berbagai kota besar di Indonesia hampir berlangsung berdekatan. Oleh karena itu, pelari perlu mengetahui latihan yang tepat agar siap mengikuti lomba tersebut.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Monica Harvriza, menyatakan banyak pelari yang ikut event tanpa persiapan memadai. “Banyak banget pelari yang belum 1 tahun udah berani tuh daftar HM, udah berani daftar FM gitu. Tapi setelah saya tanya latihannya gimana, mungkin kurang persiapannya,” ujarnya saat ditemui usai konferensi pers Digiland 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Monica menjelaskan, latihan yang ideal dilakukan 3-4 kali dalam seminggu dengan intensitas ringan hingga sedang secara konsisten. “Jadi sebenernya dia bisa lari dengan intensitas sedang, seminggu 3-4 kali, itu sebenernya kita bisa bilang konsisten,” katanya.
Ia menambahkan, “Jadi kayak, saya selalu lari kok, lari seminggu sekali, pas lagi CFD doang, 10-15 kilo. Itu berarti bukan rutin, kita weekend warrior nyebutnya, cuma Sabtu atau Minggu doang.”
Selain latihan, pelari juga harus memperhatikan pemulihan setelah berlari. Monica mengingatkan agar tidak membandingkan kemampuan dengan orang lain karena setiap individu berbeda. Ia juga menegaskan pentingnya tidak memaksakan diri saat tubuh merasa lelah, terutama bagi yang masih memiliki aktivitas lain seperti bekerja.
“Jadi kalau masih bekerja, istirahat itu penting, apa yang dimakan itu penting. Kalau atlet bisa ya, ya atlet lah,” ujarnya.
Monica juga menyarankan pelari yang ingin mengejar jarak 21 km atau Half Marathon untuk menggunakan pelatih. Pelatih dapat memantau kemampuan pelari dan membuat program latihan yang lebih terukur dan teratur.
“Ada orang yang bisa memantau, kamu bisa lari seminggu berapa kilo. Kamu bisa enggak ditambah seminggu berapa kilo lagi gitu, itu tugasnya coach-nya. Kita cukup mengikuti programnya, lebih terukur, lebih teratur,” tutup Monica.














