Rochester – Penggunaan antibiotik pada bayi yang umum dilakukan untuk mencegah infeksi serius ternyata dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus, yang berdampak pada fungsi paru-paru. Penelitian dari Universitas Rochester Medicine mengungkap bahwa perubahan mikrobioma usus akibat antibiotik memengaruhi sel imun di paru-paru bayi.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Mucosal Immunology, dijelaskan bahwa sel imun yang seharusnya melawan infeksi justru berfokus pada perbaikan jaringan. Kondisi ini tidak bersifat sementara dan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti asma di masa depan.
Penulis utama studi sekaligus ahli neonatologi, Hitesh Deshmukh, menegaskan bahwa penggunaan antibiotik tidak harus dihindari sepenuhnya. Ia mengatakan, “Penelitian ini sama sekali tidak menyarankan dokter untuk ragu menggunakan antibiotik pada bayi jika diperlukan, karena antibiotik adalah salah satu alat terpenting dalam mencegah penyakit serius dan bahkan kematian.”
Deshmukh menambahkan bahwa bakteri usus sangat penting bagi bayi dalam menunjang kehidupan awalnya. Ia menjelaskan, “Kita semakin memahami bagaimana gangguan terhadap bakteri usus bayi di awal kehidupan dapat mengubah sel imun dengan cara yang bertahan lama setelah masa bayi.”
Selain itu, antibiotik tidak hanya membunuh bakteri jahat, tetapi juga dapat menyerang bakteri baik di usus bayi. Hal ini membuat bayi lebih rentan mengalami gangguan pencernaan seperti diare dan risiko alergi yang lebih tinggi.
Sementara itu, penelitian dari Universitas Minnesota menemukan bahwa pemberian antibiotik pada bayi baru lahir dengan sepsis dapat memperparah kondisi tersebut. Pengobatan awal sepsis biasanya menggunakan kombinasi antibiotik ampisilin dan gentamisin, yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, studi yang dipresentasikan di European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases menunjukkan bahwa banyak bakteri penyebab sepsis sudah kebal terhadap antibiotik tersebut, sehingga hanya efektif pada sekitar 25 persen kasus.
Tingginya resistensi antibiotik menyebabkan pengobatan sepsis kurang efektif, infeksi sulit dikendalikan, dan meningkatkan risiko kerusakan organ serta kematian pada bayi.
Dengan demikian, meskipun antibiotik memiliki banyak manfaat bagi bayi, penggunaannya harus diperhatikan dengan cermat untuk menghindari dampak negatif jangka panjang.















