Gumi – Di tengah deru mesin di kota industri Gumi, Korea Selatan, mie instan atau ramyeon telah menjadi salah satu “senjata rahasia” ekonomi negara tersebut. Dahulu dikenal sebagai makanan murah pengganjal lapar, kini ramyeon berubah menjadi mesin uang bernilai triliunan rupiah, penggerak wisata, dan alat diplomasi budaya Korea Selatan ke seluruh dunia.
Di pabrik terbesar Nongshim di Gumi, sekitar 600 bungkus ramyeon diproduksi setiap menit. Fasilitas seluas lebih dari 42 ribu meter persegi ini mampu menghasilkan 6 juta bungkus per hari dengan sekitar 600 pekerja, berkat dukungan sensor berbasis AI dan kamera pintar yang memantau seluruh proses produksi.
Manajer pabrik Sang Hoon Kim menyatakan, “Tahun lalu, kami memproduksi 1,23 miliar unit senilai 884 miliar won (sekitar Rp10,3 triliun).” Pabrik ini menjadi tulang punggung produksi Shin Ramyun dan Chapagetti yang mendominasi pasar domestik Korea Selatan saat ini.
Namun, di Gumi, ramyeon bukan sekadar produk makanan. Kota berpenduduk sekitar 400 ribu jiwa yang dulu dikenal sebagai kawasan industri membosankan kini berubah menjadi destinasi wisata berbasis mie instan. Pemerintah kota mulai menggelar festival ramyeon sejak 2022 untuk membangun identitas budaya baru.
Hasilnya di luar dugaan. Jumlah pengunjung melonjak dari 10 ribu orang pada festival pertama menjadi 350 ribu orang pada 2025, dengan penjualan mencapai 54 ribu mangkuk dan 480 ribu bungkus ramyeon hanya dalam tiga hari. Pejabat senior Balai Kota Gumi, Jeong-tae Kim, mengatakan, “Sebagai kota industri, kami membutuhkan identitas budaya.”
Festival tersebut menghadirkan jalur kuliner sepanjang 475 meter yang dipenuhi kreasi berbahan dasar ramen, mulai dari sandwich ramen hingga sup mie dengan daging asap. Dampaknya langsung terasa pada ekonomi lokal, dari tiket kereta yang habis terjual hingga lonjakan omzet pedagang setempat.
Kisah sukses ramyeon berakar dari masa sulit Korea Selatan pasca-Perang Korea pada 1960-an. Saat itu, negara mengalami kekurangan pangan dan pemerintah mendorong konsumsi tepung terigu bantuan militer AS sebagai alternatif beras. Dari situ, industri mie instan Korea lahir.
Samyang Foods menjadi pelopor pada 1963 dengan mengadaptasi mie instan Jepang ciptaan Momofuku Ando, lalu menyesuaikannya dengan lidah Korea yang menyukai rasa pedas dan gurih. Sang Hoon Kim mengenang saat Shin Ramyun diluncurkan pada 1986 dengan harga hanya 200 won atau sekitar Rp2.300 dalam nilai saat ini. Ia berkata, “Saya makan banyak sekali. Saya membeli dalam kardus. Paling banyak saya makan 10 bungkus sehari.”
Kini, warga Korea mengonsumsi lebih dari 4 miliar porsi mie instan per tahun atau rata-rata 77 mangkuk per orang. Popularitas ramyeon meluas ke seluruh dunia seiring gelombang budaya pop Korea. Adegan “ram-don” dalam film Parasite hingga aksi makan mie di K-Pop Demon Hunters turut mendorong popularitas ramen Korea secara global.
Menurut kepala pemasaran global Nongshim, Jinny Seo, momen budaya pop tersebut menjadi katalis penting yang memperluas basis konsumen internasional mereka. Ekspor mie instan Korea pada 2025 melonjak 22% menjadi US$1,5 miliar atau sekitar Rp26,24 triliun. Permintaan dari Eropa dan berbagai negara terus membludak hingga kapasitas produksi mulai kewalahan.
Untuk menjawab lonjakan itu, Nongshim membangun pabrik ekspor baru di Busan senilai 191,8 miliar won atau sekitar Rp2,3 triliun. Pabrik ini diproyeksikan memproduksi 500 juta bungkus ramyeon per tahun.















