Jakarta – Anak-anak saat ini sangat akrab dengan gadget dalam kesehariannya, bahkan gadget seolah menjadi ‘teman bermain’ mereka. Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Pediatrik Sosial, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A, Subsp.TKPS(K), MPH, menyebut anak-anak sekarang termasuk digital natives, generasi yang tumbuh di era digital.
“Di zaman sekarang ini anak-anaknya kita bilangnya digital natives. Jadi, mereka lahir sudah memiliki gadget gitu, ya. Gadget ini kalau saya bilang seperti pisau bermata dua. Ada sisi yang kita butuhkan juga, terutama anak-anak yang sudah agak besar yang sekarang segala sesuatu, misalnya pelajaran pun mereka harus pegang gadget,” ujar dr. Bernie.
Menurut dr. Bernie, gadget memang bermanfaat terutama untuk anak yang lebih besar dalam menunjang kegiatan belajar. Namun, ada risiko yang perlu diperhatikan, terutama jika gadget diberikan terlalu cepat pada anak usia dini yang sedang mengalami perkembangan otak pesat.
Anak-anak kini semakin sering menonton tayangan pendek atau short video yang sengaja dibuat menarik perhatian agar cepat menarik minat penonton sejak detik pertama. “Short itu dibuat supaya menarik, sesuatu yang eye catching atau membuat siapa pun yang melihatnya pasti ingin melihat,” jelas dr. Bernie.
Kebiasaan scrolling konten pendek ini membuat anak hanya menangkap bagian yang paling menarik tanpa memahami isi secara mendalam. Kondisi ini dapat memicu kecenderungan adiksi atau ketergantungan pada gadget karena anak terbiasa mencari stimulasi cepat.
“Biasanya yang diambil itu yang benar-benar menarik saja. Akhirnya ini membuat bagian otak yang bisa menyebabkan adiksi,” ucap dr. Bernie. Selain itu, kemampuan atensi atau fokus anak juga terpengaruh karena mereka terbiasa dengan konten yang serba cepat.
“Kalau di kehidupan nyata kita melihat orang berjalan pelan, tapi di media sosial itu cepat sekali. Kadang videonya juga dipercepat. Akhirnya atensinya menjadi memendek,” tegas dr. Bernie.
Meski demikian, orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika bisa mengatur penggunaan gadget dengan baik. Dengan kegiatan yang tepat, anak bisa beradaptasi kembali secara bertahap. “Kalau pengalaman saya satu atau dua minggu, asal kita alihkan ya, segera berikan kegiatan lain apapun itu yang lebih menarik,” jelasnya.
Aturan penggunaan gadget pada anak terus menyesuaikan perkembangan zaman. Dr. Bernie menyebut panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP) menjadi acuan penting. Pada 2016, penggunaan gadget tidak diperkenankan untuk anak di bawah 18 bulan kecuali video call dengan orang tua karena bersifat dua arah.
Sebelumnya, durasi penggunaan gadget dibatasi maksimal dua jam per hari. Namun pada 2025, fokus bergeser pada kualitas konten dan pendampingan orang tua. “Yang paling penting itu hati-hati juga kontennya bagaimana, pendampingannya bagaimana dari orang tua,” jelas dr. Bernie.
Untuk anak usia dini, pembatasan penggunaan gadget sangat penting agar tumbuh kembang optimal. Orang tua harus memberikan arahan jelas dan proteksi terhadap konten yang bisa diakses anak.
“Kalau yang masih di bawah 5 tahun mereka juga harus kita ajarkan ya, harus kita batasi betul-betul. Mungkin orang tua bisa mengatakan, ‘Oh ini boleh, ini tidak,'” ujar dr. Bernie. “Mungkin yang paling tepat adalah orang tua memberikan proteksi. Jadi, ada mana yang bisa diakses oleh anak, mana yang tidak bisa diakses oleh anak.”
Untuk anak yang lebih besar, pendekatan bisa dilakukan dengan kesepakatan bersama orang tua, terutama karena mereka membutuhkan gadget untuk keperluan sekolah. “Kalau anak-anak yang sudah besar di mana mereka juga butuh untuk sekolah. Jadi mungkin oke nanti boleh pegang HP-nya ya untuk kebutuhan sekolah,” saran dr. Bernie.
Setelah itu, anak tetap boleh punya waktu bebas untuk berkomunikasi atau mencari hiburan, namun dengan batasan dan pendampingan dari orang tua. “Ada waktu dia menggunakan untuk misalnya dia ingin chat dengan temannya atau ingin sekadar mencari hiburan. Namun, tetap dibatasi dan yang penting pendampingan,” pungkasnya.















