Jakarta – Lembaga swadaya masyarakat SOS Mata Atlântica melaporkan angka deforestasi di hutan Atlantik Brasil mencapai titik terendah sejak pemantauan dimulai 40 tahun lalu. Penurunan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian lingkungan di bioma yang paling terancam di negara tersebut.
Direktur Eksekutif SOS Mata Atlântica, Luís Fernando Guedes Pinto, menyatakan keberhasilan ini tercermin dalam laporan tahunan terbaru. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil dari penguatan kebijakan perlindungan alam dan penegakan hukum yang lebih ketat.
“Kami telah melihat kembalinya kebijakan untuk memerangi deforestasi di bawah pemerintahan saat ini,” ujarnya.
Data pemantauan sepanjang 2025 menunjukkan luas lahan yang mengalami deforestasi di hutan Atlantik sebesar 8.658 hektare. Angka ini turun 40% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 14.366 hektare, sekaligus menjadi kali pertama angka kerusakan hutan turun di bawah 10.000 hektare sejak 1985.
Pinto menambahkan, “Ini adalah skenario yang sangat menggembirakan bagi pelestarian hutan, namun di sisi lain kita juga menghadapi tantangan regulasi yang bisa membalikkan tren penurunan ini.”
Hutan Atlantik merupakan kawasan vital bagi Brasil karena menjadi tempat tinggal 80% populasi negara, termasuk kota besar seperti Rio de Janeiro dan São Paulo. Saat ini, bioma tersebut hanya menyisakan sekitar 24% dari tutupan hutan aslinya, jauh lebih sedikit dibandingkan Amazon yang masih mempertahankan sekitar 80% wilayahnya.
Meski mencatat rekor positif, para pegiat lingkungan memperingatkan risiko dari pengesahan aturan baru di kongres yang dinilai melemahkan perlindungan lingkungan. Regulasi tersebut menghapus persyaratan persetujuan dari badan lingkungan federal bagi pemerintah daerah untuk mengizinkan penebangan hutan.
Selain itu, ancaman juga datang dari dinamika politik menjelang pemilihan presiden Oktober mendatang. Kehadiran kandidat Flávio Bolsonaro yang berencana mengikuti kebijakan ayahnya, Jair Bolsonaro, dikhawatirkan akan memicu lonjakan penggundulan hutan dan pengabaian terhadap sains iklim.
“Kelompok politiknya anti-sains, menyangkal sains iklim, dan melihat alam serta hutan sebagai hambatan pembangunan. Brasil bisa kehilangan kesempatan untuk menjadi pemimpin lingkungan global,” pungkas Pinto.















