Jakarta – Setiap perempuan memiliki pengalaman berbeda saat melahirkan, termasuk ada yang mengalami klimaks atau yang dikenal dengan istilah birthgasm. Kondisi ini merupakan orgasme yang dialami ibu saat proses persalinan berlangsung.
Orgasme biasanya terjadi saat berhubungan intim, namun birthgasm sering dianggap mitos. Padahal, meski jarang, fenomena ini nyata dan dialami sebagian perempuan. Karena sedikit yang berbagi pengalaman, banyak yang meragukan keberadaannya. Selain itu, pelaporan kasus ini juga masih minim.
Mengapa birthgasm bisa terjadi? Studi tahun 2013 yang dipublikasikan di jurnal Sexologies mengungkapkan bahwa orgasme obstetrik terjadi pada 0,3 persen persalinan. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 100 bidan di Prancis yang membantu persalinan 206.000 bayi. Lebih dari 85 persen bidan percaya persalinan yang menyenangkan secara seksual mungkin terjadi, dan sekitar 69 persen menyatakan pernah menyaksikan kejadian tersebut.
Meski demikian, perempuan yang mengalami birthgasm sering merasa malu dan bersalah sehingga enggan membagikan pengalaman mereka. Hal ini menyulitkan pemahaman tentang seberapa sering fenomena ini terjadi.
Kemungkinan orgasme saat persalinan berkaitan dengan hormon seperti estrogen, progesteron, hCG, dan terutama oksitosin yang dilepaskan dalam jumlah besar selama persalinan. Oksitosin merangsang kontraksi rahim dan memicu perasaan keibuan. Hormon beta endorfin, adrenalin, dan noradrenalin juga aktif, memberikan rasa nyaman dan stamina serta berfungsi sebagai pereda nyeri alami.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa orgasme dan rangsangan seksual bisa menjadi pereda nyeri yang kurang dimanfaatkan selama persalinan.
Birthgasm dapat terjadi kapan saja selama persalinan, namun paling besar kemungkinannya saat bayi mulai melewati jalan lahir. Tekanan kepala bayi pada vagina dapat memicu sensasi menyenangkan, bahkan orgasme, meski hal ini masih menjadi perdebatan.
Saat mengalami orgasmic birth, perempuan merasakan tekanan dan sensasi luar biasa di vagina, diikuti pelepasan fisik dan emosional yang kuat. Namun, pengalaman ini berbeda pada setiap perempuan dan persalinan.
Manfaat birthgasm antara lain meningkatkan toleransi nyeri. Penelitian sejak 1985 menunjukkan orgasme dapat mengurangi rasa sakit selama persalinan. Studi tahun 2014 dan 2015 juga menegaskan bahwa oksitosin yang meningkat saat orgasme dan persalinan berperan sebagai pereda nyeri.
Jika perempuan mengalami orgasme saat persalinan, hal ini dapat membantu mengurangi kebutuhan obat penghilang rasa sakit dan membuat mereka merasa lebih berdaya.
Meski tidak ada risiko langsung dari birthgasm, fokus berlebihan pada fenomena ini dapat menimbulkan tekanan dan stres jika tidak berhasil, bahkan membuat seseorang merasa gagal dan menolak metode manajemen nyeri lain.
Risiko terbesar adalah ketidaknyamanan saat mencoba birthgasm di rumah sakit yang merupakan fasilitas umum, sehingga beberapa perempuan memilih melahirkan di rumah. Namun, dokter biasanya hanya merekomendasikan persalinan di rumah untuk kehamilan risiko rendah karena risiko kematian bayi atau cedera parah lebih tinggi.
Bagi yang ingin pengalaman persalinan lebih menyenangkan, disarankan berdiskusi dengan dokter untuk menentukan apakah melahirkan di rumah aman. Jika tidak, pengalaman tersebut masih bisa dicapai di rumah sakit dengan meminta kamar pribadi dan mendiskusikan pilihan persalinan seperti posisi berbeda, persalinan di dalam air, atau bergerak selama proses.
Informasi ini diharapkan dapat membantu perempuan memahami dan mempersiapkan diri menghadapi persalinan dengan lebih baik.














