Jakarta – Kabar meninggalnya seorang siswa di Lombok Timur yang diduga akibat meniru gerakan freestyle dari gim Free Fire (FF) menjadi perbincangan hangat di media sosial. Berbagai informasi simpang siur membuat publik ingin mengetahui fakta sebenarnya.
Wali kelas siswa tersebut, Sakiatun Nisa, menegaskan bahwa aksi freestyle yang ramai dibahas itu tidak terjadi di lingkungan sekolah. “Untuk kejadian di sekolah tidak ada yang seperti dibilang sama media sosial itu, ada dibilang ketika jam olahraga terus patah tulangnya itu informasi tidak benar, kejadiannya juga tidak terjadi di sekolah. Ini kejadiannya di rumah,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).
Nisa juga menyampaikan bahwa foto yang beredar di media sosial, yang memperlihatkan seorang anak berseragam sekolah sedang melakukan freestyle ala gim FF, bukanlah siswanya. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap banyak Content Creator yang menyebarkan foto tersebut dengan keterangan berlebihan.
“Saya sangat menyayangkan sekali karena yang pertama posting itu adalah saya wali kelasnya dan fotonya itu ketika duduk di bangku untuk mengambil kenang-kenangan untuk ditempel di hiasan dinding kelas. Setelah saya unggah, caption-nya hanya berbelasungkawa saja, tapi oleh orang lain di media sosial foto yang saya upload itu berdampingan dengan foto-foto lain yang freestyle dan ironisnya lagi pakai baju sekolah, kemudian itu yang viral,” jelas Nisa.
Lebih lanjut, Nisa mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat siswanya melakukan aksi freestyle seperti yang ramai diberitakan. Ia menduga aksi tersebut kemungkinan dilakukan di rumah saat di luar pengawasan sekolah.
“Kalau di sekolah tidak pernah ada kami lihat. Di kelas 1 tidak ada, anaknya ini termasuk dia lugu juga yang meninggal ini. Tetapi kemungkinan aksi freestyle ini dilakukan di rumahnya, kalau itu kan di luar pengawasan kami. Kami juga tidak tahu freestyle ini seperti apa, baru setelah berita ini viral kami cari tahu di internet,” tambahnya.
Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah langsung mengingatkan para siswa agar tidak melakukan aksi yang membahayakan diri sendiri. Sekolah juga meminta para orang tua untuk lebih memperhatikan anak saat menggunakan media sosial di rumah.















