Jakarta – Pembekuan sperma atau sperm freezing menjadi salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan pada pria. Prosedur ini memiliki cara, syarat, dan biaya yang berbeda dibandingkan dengan egg freezing.
Sperm freezing dilakukan dengan berbagai alasan, salah satunya sebagai tabungan atau investasi untuk memiliki anak di masa depan. Sperma yang dibekukan dapat digunakan sebagai cadangan untuk perawatan kesuburan, asuransi sebelum vasektomi, atau untuk mereka yang khawatir kesuburannya menurun sebelum siap memiliki anak.
Keputusan menjalani sperm freezing dianggap bijaksana untuk melestarikan kesuburan, terutama bagi pria yang menjalani perawatan kanker atau terapi hormon. Sperm freezing juga bisa digunakan untuk mendonorkan sperma atau untuk perawatan orang lain, dengan prosedur karantina dan pemeriksaan infeksi selama enam bulan sebelum sperma dapat digunakan.
Sebelum menjalani prosedur ini, pria biasanya harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti memiliki kondisi medis yang memengaruhi kesuburan, berencana menjalani vasektomi, memiliki jumlah atau kualitas sperma yang rendah, kesulitan menghasilkan sampel sperma, atau berisiko mengalami cedera atau kematian.
Selain itu, faktor usia, prosedur medis, dan pekerjaan berisiko tinggi seperti militer juga menjadi alasan pria memilih sperm freezing. Prosedur ini dimulai dengan tes penyakit menular seperti HIV dan hepatitis, kemudian pasien memberikan persetujuan tertulis dan memberikan sampel sperma segar yang dicampur dengan cairan khusus untuk melindungi sperma selama pembekuan.
Sperma dibagi ke dalam beberapa wadah agar dapat digunakan secara bertahap dan disimpan dalam nitrogen cair pada suhu minus 196 derajat Celcius. Prosedur ini aman dan tidak menimbulkan risiko bagi pasien maupun anak yang lahir dari sperma beku, meskipun tidak semua sperma dapat bertahan hidup setelah proses pembekuan dan pencairan.
Sperma yang disimpan dapat digunakan di masa mendatang, namun perlu dipertimbangkan potensi biaya penyimpanan yang berkisar antara US$100-500 per tahun. Penyimpanan sperma harus dilakukan di laboratorium dengan kontrol suhu yang tepat, karena suhu freezer rumah tidak cukup rendah untuk menjaga kualitas sperma.
Ahli urologi Amin Herati menjelaskan bahwa sperma yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam larutan pembeku khusus dan disimpan dalam tabung kecil di freezer nitrogen cair. Sperma biasanya dibagi ke dalam beberapa tabung dan disimpan di beberapa tangki untuk mengantisipasi kerusakan freezer. Saat akan digunakan, sperma dicairkan di laboratorium dan dianalisis untuk memastikan motilitas dan aktivitasnya.
Meski dalam beberapa kasus setengah hingga dua pertiga sperma tidak bertahan hidup, sperma yang bertahan justru lebih menguntungkan untuk kesuburan dan berpotensi menghasilkan kehamilan melalui IVF.
Biaya sperm freezing bervariasi, meliputi biaya pengumpulan, analisis, dan penyimpanan berkelanjutan. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan pihak asuransi terkait biaya tersebut.
Prosedur sperm freezing tidak dapat dilakukan di rumah karena memerlukan suhu penyimpanan yang sangat rendah dan kontrol kualitas yang ketat di laboratorium.















