Jakarta – Sejumlah studi mengungkap adanya tren peningkatan kasus kanker yang perlu diwaspadai, terutama pada kelompok usia produktif 20 hingga 49 tahun. Dari berbagai jenis kanker, kanker usus besar atau colorectal cancer (CRC) menjadi yang paling banyak menyerang orang dewasa muda.
Selain faktor genetik, gaya hidup termasuk pola makan juga sangat memengaruhi risiko kanker. Salah satu kebiasaan makan orang Indonesia yang terbukti meningkatkan risiko kanker adalah ngemil gorengan.
Bakwan, tahu isi, cimol, keripik singkong, hingga kentang goreng merupakan makanan ringan yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Makanan ini mudah ditemukan mulai dari penjual di pinggir jalan hingga kafe dan restoran mahal.
Makanan yang digoreng menghasilkan akrilamida, senyawa kimia yang terbentuk secara alami saat makanan kaya karbohidrat dimasak pada suhu tinggi. Zat ini bukan bahan tambahan pangan, melainkan hasil reaksi asam amino dan gula alami pada makanan.
Semakin lama dan semakin gelap penggorengan atau pemanggangan, maka kandungan akrilamida semakin tinggi. Studi keamanan pangan menunjukkan kadar akrilamida dalam keripik kentang berkisar antara 300 hingga lebih dari 2000 µg/kg, sedangkan kentang goreng berkisar antara 200 hingga 700 µg/kg.
Akrilamida banyak ditemukan pada kentang goreng, keripik, roti bakar terlalu gelap, dan makanan tepung yang digoreng. Dalam penelitian laboratorium pada hewan, paparan akrilamida dosis tinggi terbukti dapat merusak DNA dan meningkatkan pembentukan tumor. Oleh karena itu, International Agency for Research on Cancer mengklasifikasikan akrilamida sebagai “probably carcinogenic to humans” atau kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia.
Selain itu, senyawa lain yang dapat memicu kanker adalah Heterocyclic amines (HCAs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs). Kedua senyawa ini lebih sering muncul pada daging yang digoreng atau dibakar dengan suhu sangat tinggi hingga gosong.















