Jakarta – Anak berbakat sejak kecil tidak selalu mendapatkan sanjungan, melainkan terkadang merasa terbebani oleh ekspektasi lingkungan sekitar. Seorang tenaga pendidik siswa berbakat, Wess Carroll, menyatakan bahwa siswa berbakat sering diberi label “anak pintar” sejak dini, yang justru menjadi tekanan karena mereka merasa harus selalu berhasil dan takut melakukan kesalahan.
Orang tua biasanya bangga saat anak berbakat berhasil, namun kekecewaan muncul ketika anak gagal mencapai harapan tersebut. Kondisi ini membuat anak berbakat cenderung merasa harus sempurna dan menghindari risiko, sehingga mereka menghindari tantangan yang berpotensi membuat mereka gagal.
Penelitian menunjukkan bahwa anak berbakat memiliki sifat perfeksionis dengan standar tinggi pada diri sendiri. Label “anak pintar” membuat mereka ragu mencoba hal baru karena takut hasilnya tidak memuaskan. Ironisnya, anak berbakat yang potensial ini bisa menjadi orang dewasa yang menghindari tantangan karena beban tersebut.
Psikolog pendidikan David Palmer, Ph.D, menjelaskan bahwa anak berbakat memiliki kepekaan emosional yang berbeda dan lebih peka terhadap perasaan orang lain maupun dirinya sendiri. Mereka sering mengalami overthinking dan takut tidak memenuhi ekspektasi orang lain, sehingga memilih zona aman agar tidak gagal dan kehilangan pujian.
Karakter perfeksionis ini dapat berlanjut hingga dewasa dan menghambat karier mereka. Anak berbakat juga menyadari bahwa untuk mencapai hal di luar bakat alami, diperlukan usaha keras dan waktu bertahun-tahun. Oleh karena itu, penting bagi anak berbakat untuk belajar menerima kritik, mencoba hal baru, dan tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain agar dapat berkembang.
Dalam mendukung anak berbakat secara emosional, orang tua disarankan untuk membantu anak bersosialisasi, melatih keterampilan sosial, menjadi pendengar yang baik, bersikap tulus, dan mengajarkan hubungan sosial yang sehat. Dengan cara ini, anak dapat belajar menerima perbedaan dan mengembangkan diri secara optimal.
Penjelasan ini diharapkan dapat membantu orang tua memahami alasan anak berbakat menghindari tantangan saat dewasa dan memberikan dukungan yang tepat.















