Jakarta – Perubahan gaya parenting saat ini mendorong cara orang tua dalam mendampingi anak ikut berkembang, salah satunya dengan pendekatan play-based learning atau pembelajaran berbasis bermain.
Chief Executive Officer (CEO) Lilla, Chrisanti Indiana, menyatakan bahwa tren play-based learning semakin populer karena dianggap lebih dekat dengan keseharian anak. Ia mengatakan, “Sekarang, kalau kita bahas soal tren parenting, belakangan ini memang sudah banyak sekali orang tua yang membahas tentang play-based learning, ya.”
Menurut Indiana, metode ini membuat anak lebih aktif dan senang saat belajar sehingga banyak orang tua ingin memahami konsep tersebut lebih dalam. Play-based learning adalah metode pembelajaran yang menempatkan kegiatan bermain anak sebagai bagian dari proses belajar mereka. “Dahulu, bermain dan belajar dianggap dua hal yang berbeda, tapi sekarang sudah banyak orang tua yang menyadari bahwa anak-anak belajar bisa lewat bermain,” jelasnya.
Banyak orang tua mulai menerapkan metode ini dalam keseharian anak dengan harapan tumbuh kembang Si Kecil bisa lebih optimal dan menyenangkan. Namun, pemilihan mainan yang tepat juga menjadi perhatian penting agar tidak mengganggu perkembangan anak, seperti yang terjadi pada game online.
Indiana menekankan pentingnya memilih mainan yang memperhatikan keamanan dan kesesuaian usia. Ia menjelaskan, “Pertama, yang pasti kita pilih produk sesuai dengan usianya, tapi kita juga bisa lihat leveling-nya juga. Jadi, kita bisa lihat apakah anak ini bisa berkembang dengan permainan tersebut.”
Selain itu, sertifikasi keamanan produk juga harus diperhatikan, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan European Standard 71 (EN71) yang berlaku di Eropa. “Di Indonesia, kita biasanya sudah kenal sama SNI. Kalau di luar negeri ada juga EN71, itu sudah paling tinggi di Eropa,” tambahnya.
Untuk permainan edukatif, Indiana merekomendasikan building blocks atau balok susun yang dapat membantu perkembangan berbagai aspek anak. Ia menjelaskan, “Banyak studi yang membahas bahwa perkembangan otak anak itu cepat ketika mereka sedang bermain. Jadi, tidak cuma mengasah kreativitas, tapi building blocks itu banyak sekali manfaatnya.”
Ia menambahkan bahwa bermain dengan building blocks juga melatih fungsi kognitif, motorik, dan kemampuan mengatur emosi anak. “Misalnya baloknya gagal atau sudah sesuai panduan, mereka belajar regulasi emosi dan sensorik,” pungkasnya.
Dengan demikian, play-based learning dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyenangkan dan efektif. Orang tua diharapkan dapat memilih mainan yang tepat agar manfaatnya maksimal bagi Si Kecil.















