Jakarta – Bagi perempuan yang berencana memasang alat kontrasepsi IUD, penting untuk mengetahui hal-hal yang harus dihindari agar alat tersebut tetap aman dan efektif mencegah kehamilan.
IUD atau intrauterine device adalah alat kontrasepsi berbentuk huruf ‘T’ yang dipasang di dalam rahim. Alat ini bekerja dengan cara menghentikan sperma mencapai dan membuahi sel telur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa IUD termasuk metode kontrasepsi yang aman dan sangat efektif jika digunakan dengan benar.
Menurut Traci C. Johnson, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Snellville, Georgia, seperti dikutip dari WebMD, perempuan boleh melanjutkan aktivitas harian normal setelah pemasangan IUD. Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari, seperti tidak memasukkan apapun ke dalam vagina, termasuk tampon atau menstrual cup, serta menghindari hubungan intim selama 24 jam setelah prosedur. Mandi dan berenang juga sebaiknya dihindari sementara waktu.
Beberapa hal lain yang perlu dihindari saat menggunakan KB IUD antara lain:
- Tidak melewatkan kontrol setelah pemasangan. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan posisi IUD tetap tepat dan tidak bergeser. Mayo Clinic menyarankan kontrol beberapa minggu setelah pemasangan.
- Mengabaikan nyeri atau perdarahan berlebihan. Kram ringan dan bercak darah umum terjadi, tetapi jika nyeri semakin parah, demam, keputihan berbau, atau perdarahan berat berkepanjangan muncul, segera konsultasi ke dokter karena bisa menjadi tanda infeksi atau masalah posisi IUD.
- Menarik benang IUD sendiri. Benang kecil di serviks berfungsi untuk pemeriksaan dan pelepasan alat, namun menariknya sembarangan dapat menyebabkan IUD bergeser atau terlepas. Jika benang terasa berubah atau tidak terasa, sebaiknya periksa ke dokter.
- Tidak menjaga kebersihan area intim. Penggunaan produk pembersih kewanitaan berlebihan atau douching dapat mengganggu keseimbangan bakteri alami di vagina.
- Menunda pemeriksaan saat muncul tanda infeksi. CDC mengingatkan bahwa infeksi panggul yang tidak ditangani dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Tanda infeksi meliputi nyeri panggul berat, demam, keputihan berbau menyengat, dan nyeri saat berhubungan intim.
- Menggunakan IUD tanpa konsultasi kondisi kesehatan tertentu. Perempuan dengan riwayat infeksi panggul, kanker serviks, perdarahan vagina tanpa sebab jelas, atau gangguan rahim harus berkonsultasi terlebih dahulu untuk memastikan keamanan penggunaan IUD.
IUD efektif mencegah kehamilan, tetapi tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS). Oleh karena itu, pasangan suami istri tetap disarankan menggunakan kondom jika ada risiko penularan IMS.
Untuk penggunaan yang aman, disarankan rutin kontrol sesuai jadwal dokter, menjaga kebersihan area intim, memeriksa benang IUD secara berkala, segera memeriksakan diri bila muncul keluhan tidak biasa, dan menggunakan kondom jika diperlukan.
Sebelum memasang IUD, penting juga mengetahui potensi efek samping yang bisa berbeda pada setiap perempuan, tergantung jenis dan kondisi tubuh. Efek samping umum meliputi pendarahan tidak teratur selama beberapa bulan, perubahan pola menstruasi, gejala sindrom pra menstruasi seperti sakit kepala, mual, nyeri payudara, dan kram perut. Efek ini biasanya membaik setelah beberapa bulan.
Keunggulan KB IUD antara lain efektivitas lebih dari 99 persen, durasi pemakaian hingga 5-10 tahun, aman untuk ibu menyusui, dan kemudahan pemantauan benang setiap bulan. IUD juga dapat dilepas kapan saja oleh tenaga medis terlatih, dan kesuburan biasanya kembali normal setelah pelepasan alat. KB IUD menjadi pilihan tepat bagi perempuan yang tidak ingin menggunakan kontrasepsi hormonal.
Dengan memahami hal-hal yang harus dihindari, perempuan dapat menggunakan KB IUD dengan lebih aman dan nyaman untuk mencegah kehamilan.















