Jakarta – Sebagian orang tua masih memilih memukul anak sebagai cara mendisiplinkan, namun pola asuh ini berisiko menghambat tumbuh kembang anak, terutama dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Pola asuh dengan hukuman fisik sudah berlangsung lama dan mungkin dialami sejak zaman dulu. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, metode ini menjadi perdebatan. Banyak yang menilai cara tersebut sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan karena penelitian terbaru menunjukkan dampak negatifnya lebih besar daripada manfaatnya.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan hukuman fisik tidak memberikan manfaat dan justru meningkatkan risiko jangka panjang. Ahli perkembangan anak Kim Kopko menegaskan, “Memberikan pukulan kepada anak bukan solusi. Cara ini malah merugikan mereka secara fisik dan mental.”
Komite Hak Anak PBB bahkan menganggap hukuman fisik sebagai pelanggaran hak anak. Akibatnya, puluhan negara melarang orang tua memukul anak di rumah atau sekolah.
Menurut Psychology Today, anak yang sering menerima hukuman fisik berisiko mengalami berbagai dampak negatif hingga dewasa, seperti perkembangan yang tidak sesuai usia, meningkatnya kecemasan dan depresi, rendahnya rasa percaya diri, serta ketidakstabilan emosi. Anak juga kesulitan belajar dan berpotensi mengalami gangguan mental, penyalahgunaan zat, dan perilaku agresif.
Dampak buruk juga dirasakan orang tua, seperti rusaknya hubungan dengan anak, hilangnya kepercayaan, dan anak merasa takut berinteraksi.
Sebagai alternatif, pola asuh yang seimbang antara kedisiplinan, ketegasan, dan kehangatan dianjurkan. Cara mendisiplinkan tanpa kekerasan meliputi mengajarkan disiplin waktu dengan jeda istirahat (time-out), mengurangi akses gadget, memberikan pujian atas perilaku baik, menjadi contoh yang baik, serta berdiskusi dan memberi pemahaman tentang konsekuensi tindakan.
Mengendalikan emosi menjadi kunci agar orang tua tidak memukul anak. Orang tua disarankan memahami pemicu kemarahan, mengenali trauma masa lalu, tetap tenang melalui meditasi atau mindfulness, serta mengelola stres secara mandiri atau dengan bantuan profesional.
Dengan demikian, diharapkan orang tua dapat menghindari hukuman fisik dan menjaga kesehatan mental anak agar tumbuh optimal.















