Jakarta – Pola asuh orang tua dari generasi ke generasi selalu mengalami perubahan, seiring dengan pergeseran cara pandang terhadap komunikasi dan kesehatan mental anak. Di masa lalu, beberapa kalimat yang dianggap wajar dalam mendidik anak kini mulai dipandang sebagai bentuk komunikasi yang berpotensi melukai mental anak.
Mengutip laman Your Tango, terdapat sejumlah kalimat yang dulu sering diucapkan orang tua, namun kini cenderung dihindari karena dampak negatifnya terhadap kesehatan mental anak.
Pertama, kalimat seperti “Kamu benar, Bunda memang orang tua yang buruk” sering muncul saat konflik dan emosi memuncak. Ungkapan ini bisa membuat anak merasa bersalah dan takut jujur, padahal komunikasi yang sehat seharusnya membuat anak merasa aman.
Kedua, “Kamu lebih beruntung dibandingkan Bunda waktu kecil” yang dimaksudkan untuk menunjukkan kondisi anak lebih baik, justru membuat anak merasa dibandingkan dan tertekan oleh budaya perbandingan di media sosial.
Ketiga, kalimat “Kalau kamu sayang Bunda, kamu akan melakukan ini” dianggap sebagai syarat cinta yang menimbulkan kecemasan dan kesulitan anak mengenali kebutuhannya sendiri, menurut psikolog klinis Daniel S. Lobel.
Keempat, ungkapan “Karena Bunda bilang begitu” sering digunakan untuk mengendalikan situasi dengan cepat, namun membuat anak merasa tidak diberi kesempatan memahami alasan aturan.
Kelima, kalimat “Jangan terlalu dramatis” atau “jangan terlalu sensitif” dapat meremehkan perasaan anak dan menimbulkan jarak dalam hubungan orang tua dan anak, menurut psikolog Hal Shorey, Ph.D.
Keenam, “Bunda akan memberi kamu alasan untuk menangis” yang diucapkan saat emosi memuncak, justru menakut-nakuti anak dan mengalihkan fokus dari pemahaman menjadi penghentian situasi.
Ketujuh, “Lupakan saja, hidup terus berjalan” membuat anak belajar menahan perasaan tanpa memahami emosi yang berat.
Kedelapan, kalimat “Jangan pulang sebelum lampu jalan menyala!” mencerminkan sikap protektif berlebihan yang membatasi kebebasan anak mencoba hal baru, meski ada penelitian yang menyebutkan bermain tanpa pengawasan juga bermanfaat.
Kesembilan, “Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan” dulu memotivasi anak, namun kini anak muda lebih realistis menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi, sehingga perlu bimbingan memahami kemampuan dan kondisi sekitar.
Kesepuluh, kalimat “Ini semua salah kamu” dapat menjadi tekanan emosional yang membuat anak merasa selalu penyebab masalah, sehingga tumbuh dengan rasa cemas dan takut berbuat salah.
Kesebelas, “Tunggu sampai ayahmu pulang!” yang merupakan bentuk ancaman, berdampak pada perilaku agresif dan kesulitan mengatur emosi anak, serta membuat anak merasa takut di rumah sendiri.
Kini, banyak orang tua mulai menghindari pola komunikasi seperti itu demi kesehatan mental anak yang lebih baik. Pola asuh yang sehat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan emosional anak.















