Jakarta – Kebiasaan yang membuat hidup tidak bahagia sering kali dilakukan tanpa disadari dan terus berulang dalam kehidupan sehari-hari. Meski sudah mengetahui dampak buruknya, banyak orang tetap terjebak dalam pola yang sama karena kebiasaan tersebut pernah membuat mereka merasa aman atau nyaman.
Menurut terapis berlisensi dan penulis Kati Morton dalam bukunya Why Do I Keep Doing This?: Unlearn the Habits Keeping You Stuck and Unhappy, ada pola perilaku yang membuat seseorang sulit berkembang dan merasa puas dengan hidupnya. “Memahami akar dari kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan langkah penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan bahagia,” ujarnya.
Berikut beberapa kebiasaan yang bikin tidak bahagia dan perlu segera dihindari, dilansir dari Next Big Idea Club:
Pertama, pengendalian adalah strategi bertahan hidup. Sebagian orang memiliki keinginan untuk mengendalikan segala hal bukan sekadar sifat pribadi, melainkan cara melindungi diri dari rasa tidak aman atau ketidakpastian. Sejak kecil, mereka mungkin terbiasa menjadi anak yang baik, sempurna, atau selalu berprestasi agar lebih diterima dan dihargai. Akibatnya, saat dewasa mereka cenderung terlalu banyak berpikir, mengatur setiap detail, atau mengkritik diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Morton menyarankan, “Alih-alih menyalahkan diri sendiri, cobalah memahami alasan di balik kebutuhan tersebut agar bisa melepaskan pola lama yang membuat terjebak dan kurang bahagia.”
Kedua, selalu berusaha menyenangkan orang lain. Sikap ini sering dilabeli sebagai kebaikan, namun sebenarnya merupakan rasa takut terselubung akan penolakan, pengabaian, atau konflik. Morton menjelaskan, “Berusaha menyenangkan orang lain tidak membuat kita dekat dengan mereka, justru menjauhkan dari diri sendiri.” Ia menambahkan, “Langkah yang tepat bukan langsung mengatakan ‘tidak’ untuk semuanya, melainkan berhenti sejenak sebelum mengatakan ‘ya’ dan tanyakan pada diri sendiri apakah melakukan hal tersebut karena kepedulian tulus atau rasa takut.”
Ketiga, terlalu perfeksionis. Perfeksionisme sering dianggap sebagai pendorong untuk terus berjuang menjadi lebih baik, namun di baliknya terdapat perasaan tidak cukup yang mendalam. Morton menegaskan, “Penawar perfeksionisme bukan menurunkan standar, melainkan mengalihkan fokus dari kinerja ke koneksi.” Ia menambahkan, “Pertumbuhan muncul dari kemauan untuk hadir, mencoba, gagal, dan belajar, bukan dari eksekusi yang sempurna.”
Keempat, menekan perasaan bukan kekuatan. Banyak orang percaya bahwa tetap tenang dan terkendali adalah tanda kedewasaan, namun menekan emosi justru merupakan pengabaian diri. Morton mengingatkan, “Emosi bukan hal buruk, melainkan sinyal yang memberi tahu kapan sesuatu penting atau menyakitkan.” Ia menambahkan, “Belajar merasakan bukan berarti kehilangan kendali, melainkan memperluas kemampuan untuk tetap bersama ketidaknyamanan tanpa membiarkannya menguasai.”
Kelima, melepaskan bukan berarti tidak peduli. Melepaskan sesuatu bukan soal ketidakpedulian, melainkan kepercayaan bahwa kita dapat menghadapi kehidupan tanpa perlu mengelola setiap detailnya. Morton menjelaskan, “Ketika melepaskan ilusi kendali, kita memberi ruang bagi otentisitas. Tujuannya bukan berhenti peduli atau merencanakan, melainkan berhenti hidup dalam ketakutan.”
Dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, diharapkan kehidupan bisa menjadi lebih bahagia dan sehat.















