Jakarta – Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bahagia. Namun, cara bicara orang tua sehari-hari ternyata bisa berdampak tak terduga pada perasaan anak.
Menurut laman The Times of India, ada beberapa ucapan orang tua yang niatnya baik, tetapi tanpa disadari dapat melukai mental anak. Misalnya, kalimat “Kamu pintar sekali!” yang meski terdengar positif, bisa membuat anak mengaitkan harga dirinya hanya dengan kepintaran sehingga takut salah dan enggan mencoba hal baru.
Selain itu, membandingkan anak dengan saudara seperti “Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?” dapat merusak harga diri dan memicu persaingan antar saudara. Anak yang terus dibandingkan bisa merasa tidak cukup baik dan kehilangan rasa percaya diri.
Ucapan lain yang perlu diwaspadai adalah “Ini bukan masalah besar, berhentilah menangis.” Padahal, bagi anak, perasaan itu tetap besar dan jika diabaikan, anak bisa kesulitan mengenali dan mengatur emosinya.
Kalimat “Kamu bisa berbuat lebih baik lain kali” juga bisa membuat anak merasa usahanya belum dihargai sepenuhnya. Anak butuh pengakuan atas proses yang dijalani, bukan hanya hasil akhir.
Sering pula orang tua mengatakan, “Biar Bunda yang melakukannya untukmu” dengan niat melindungi, namun hal ini justru menghilangkan kesempatan anak belajar kemandirian. Sebaiknya orang tua membimbing dengan memberi dukungan, bukan mengambil alih.
Penggunaan kalimat “Karena Bunda yang bilang begitu” untuk menegaskan aturan juga kurang efektif karena membuat anak berhenti bertanya dan tidak memahami alasan di balik aturan tersebut. Penjelasan yang jelas lebih dianjurkan agar anak terbiasa berpikir kritis.
Terakhir, ucapan “Jangan takut atau tidak ada yang perlu ditakutkan” yang dimaksudkan untuk menenangkan anak yang takut, justru bisa membuat anak merasa perasaannya tidak wajar dan malu dengan rasa takutnya sendiri. Orang tua sebaiknya mengakui perasaan anak dan memberikan dukungan.
Para ahli menyarankan agar orang tua lebih berhati-hati dalam memilih kata saat berbicara dengan anak agar tidak berdampak negatif pada kondisi emosional dan mental mereka. Fokus pada usaha dan perasaan anak lebih penting daripada sekadar hasil atau aturan tanpa penjelasan.















