Jakarta – Masa kecil sering kali menjadi kenangan yang paling dirindukan saat kita beranjak dewasa. Banyak momen manis yang tersimpan, mulai dari bermain sepuasnya hingga menjalani hari tanpa beban pekerjaan.
Namun, tidak semua anak memiliki masa kecil yang sepenuhnya bahagia. Ada sebagian anak yang tumbuh dengan perasaan kurang nyaman terhadap dirinya sendiri. Salah satu pengalaman yang membekas cukup dalam adalah ketika seorang anak pernah dipermalukan. Meski terlihat sepele, pengalaman ini bisa meninggalkan luka batin yang mendalam.
Psikolog klinis anak sekaligus pemilik Watch Hill Therapy, Dr. Jennifer Rolnick, PsyD, menjelaskan bahwa rasa malu dapat membuat seseorang merasa tidak berharga, tidak diterima, bahkan merasa ada yang salah dengan dirinya.
“Anak tersebut mungkin merasa ‘tidak dapat diterima’ atau ‘tidak berharga’. Hal ini juga terjadi pada seorang anak berkulit hitam, yang mungkin merasa malu sebagai akibat dari rasisme. Anak-anak juga mungkin merasa salah, tidak dilihat, atau diabaikan,” ungkapnya.
Pengalaman masa kecil ini kemudian membentuk pola perilaku tertentu saat seseorang beranjak dewasa. Berikut adalah beberapa ciri orang dewasa yang pernah dipermalukan saat masih kecil:
1. Terlalu keras pada diri sendiri
Orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil cenderung memiliki standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka merasa harus selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal.
Menurut Rolnick, hal ini terjadi karena suara kritis dari orang dewasa di masa lalu yang sering meremehkan, kini telah terinternalisasi ke dalam diri mereka. “Suara itu kemungkinan besar berasal dari luar, dari orang dewasa yang kritis atau meremehkan, yang akhirnya terinternalisasi,” jelasnya.
2. Cenderung mengutamakan orang lain dan mengabaikan diri sendiri
Tidak sedikit orang dewasa yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Sikap ini sering kali muncul sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak kembali dipermalukan atau diabaikan oleh lingkungan sekitarnya.
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih mengalir dan menarik, dengan tetap mempertahankan gaya bahasa aslinya:
2. Terbiasa Menekan Perasaan
Pengalaman masa kecil sering kali membentuk pola pikir, Bunda. Saat masih anak-anak, mereka mungkin belajar bahwa mengekspresikan emosi justru memicu masalah. Akibatnya, mereka memilih untuk memendam perasaan dan selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.
Kebiasaan ini perlahan terbawa hingga dewasa dan dianggap sebagai hal yang wajar. Mereka menjadi sangat peka terhadap kebutuhan orang di sekitar, namun sayangnya, sering kali lupa untuk memedulikan diri sendiri.
3. Sulit Merasa Nyaman dalam Hubungan Dekat
Bagi banyak orang, memiliki hubungan yang intim dengan orang lain adalah hal yang menenangkan. Namun, bagi mereka yang pernah dipermalukan saat kecil, kedekatan justru terasa menantang.
Pengalaman masa lalu membuat mereka lebih protektif dan berhati-hati saat harus membuka diri. Dampaknya, mereka cenderung menjaga jarak, bahkan dengan orang terdekat sekalipun.
“Di kemudian hari, hal itu dapat terlihat seperti menjaga jarak dengan pasangan, mengharapkan penolakan, atau merasa panik ketika seseorang menjadi dekat secara emosional,” jelas Rolnick.
4. Menjadi Sosok Perfeksionis
Selanjutnya, ada orang dewasa yang merasa harus terus berprestasi dalam hidupnya. Dorongan ini biasanya muncul karena pengalaman masa kecil yang membuat mereka merasa kurang dihargai.
Rasa malu terhadap kemampuan diri di masa lalu memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri. Akhirnya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa mereka layak dan berharga.
Rolnick menyampaikan bahwa bagi sebagian orang, harga diri terasa seperti sesuatu yang harus “dibeli” melalui pencapaian. Prestasi pun menjadi cara untuk mendapatkan perhatian.
“Harga diri telah menjadi sesuatu yang Anda dapatkan sebagai imbalan atas sesuatu yang Anda lakukan (Saya dihargai ketika saya unggul). Itu menjadi cara untuk mendapatkan rasa aman atau untuk diperhatikan,” ujarnya.
5. Terlalu Peka Membaca Perasaan Orang Lain
Sebagian orang dewasa memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap suasana hati orang lain. Mereka sangat cepat menangkap perubahan kecil, baik dari ekspresi wajah maupun nada bicara.
Mereka mencoba membaca apa yang dirasakan orang lain sebagai bentuk pertahanan diri untuk menghindari situasi yang tidak nyaman. Mereka belajar untuk selalu ‘waspada’ agar tidak kembali mengalami hal yang menyakitkan. Bahkan, mereka sering kali lebih dulu menyadari jika seseorang sedang kesal atau stres.
6. Sering Meminta Maaf, Bahkan untuk Hal Kecil
Ada orang dewasa yang terbiasa meminta maaf dalam berbagai situasi. Bahkan, untuk hal yang sebenarnya bukan kesalahan mereka, mereka merasa perlu untuk meminta maaf.
Berikut adalah penulisan ulang artikel tersebut agar lebih mengalir dan menarik, dengan tetap mempertahankan gaya bahasa aslinya:
7. Takut Menjadi Pusat Perhatian
Bagi sebagian orang, menjadi pusat perhatian bisa terasa sangat tidak nyaman. Hal ini sering dialami oleh orang dewasa yang sejak kecil merasa dirinya adalah “sumber masalah”. Perasaan tersebut membuat mereka cenderung minder saat harus tampil atau terlihat oleh orang lain. Bahkan, dalam situasi tertentu, mereka bisa merasa canggung dan memilih untuk menghindar.
Psikolog anak dan remaja sekaligus pemilik Fox Chapel Psychological Services, Dr. Deborah Gilman, PhD, menjelaskan bahwa menjadi diri sendiri bisa terasa seperti menunjukkan kelemahan. Akibatnya, seseorang memilih untuk menjaga jarak meski sebenarnya sangat mendambakan koneksi dengan orang lain.
“Keaslian terasa seperti terekspos. Kerentanan terasa seperti jebakan. Anda menjaga jarak dengan orang lain sambil diam-diam mendambakan koneksi,” tuturnya.
8. Tertutup dan Sulit Terbuka
Selanjutnya, ada orang dewasa yang terlihat pendiam dan jarang bercerita tentang dirinya. Sikap ini bukan tanpa alasan, melainkan terbentuk dari pengalaman masa lalu. Mereka cenderung sangat berhati-hati saat ingin berbagi cerita atau membuka diri. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun, mereka lebih memilih untuk menyimpan banyak hal sendirian.
Jika Bunda memiliki teman yang jarang bicara soal kehidupannya, bisa jadi ada pengalaman masa kecil yang membuatnya seperti itu, salah satunya adalah pernah merasa dipermalukan di masa lalu.
9. Emosi yang Muncul Tiba-tiba
Sekilas, mereka mungkin terlihat pendiam dan selalu berusaha menjaga sikap. Mereka juga cenderung ingin menyenangkan orang lain agar situasi tetap terasa aman. Namun, perasaan yang dipendam sejak lama tidak benar-benar hilang. Dalam kondisi tertentu, emosi tersebut bisa meledak secara tiba-tiba, Bunda.
Seorang psikolog anak dan remaja asal Amerika Serikat, Dr. Natalie K. Anderson, PhD, mengatakan bahwa rasa malu dapat membuat seseorang bereaksi dengan emosi yang kuat, terutama saat mereka menghadapi penolakan secara mendadak.
“Karena rasa malu itu sangat menyakitkan, jika seseorang yang dipermalukan tidak dapat menghindari atau secara tak terduga menghadapi penolakan dalam bentuk apa pun, mereka mungkin bereaksi dengan ledakan emosi yang sangat kuat (sering kali marah atau sedih) yang mungkin tampak mengejutkan bagi orang lain,” jelas Anderson.
Cara Menyembuhkan Rasa Malu Akibat Trauma Masa Kecil
Rasa malu yang berasal dari masa kecil memang membekas, namun bukan berarti tidak bisa dipulihkan.
Rasa malu yang berakar dari masa kecil memang tidak bisa diabaikan begitu saja, Bunda. Karena sifatnya yang berkaitan erat dengan hubungan antarmanusia, proses pemulihannya pun memerlukan kehadiran hubungan yang sehat.
Psikolog Anderson menjelaskan bahwa kunci untuk mengatasi rasa malu tersebut adalah dengan berani terbuka, berbagi perasaan, dan berhenti menyembunyikan pengalaman-pengalaman sulit yang pernah dialami.
“Penawar rasa malu adalah dengan merangkul kerentanan melalui berbagi dan membuka diri mengenai perasaan serta pengalaman sulit, alih-alih memilih untuk bersembunyi,” ungkapnya.
Tentu saja, membuka diri bukanlah hal yang mudah. Terlebih bagi mereka yang sejak kecil belum pernah merasakan hubungan yang benar-benar bisa dipercaya, seperti yang disampaikan oleh Dr. Jennifer Rolnick.
“Tantangannya adalah hubungan yang ‘aman dan konsisten’ sering kali tidak terasa dapat dipercaya, karena seseorang tidak pernah memiliki pengalaman dengan hubungan yang sehat sebelumnya,” jelas Dr. Rolnick.
Meski begitu, bukan berarti kondisi ini tidak bisa diubah. Dengan melatih rasa sayang pada diri sendiri serta mencoba mencari bantuan profesional, proses penyembuhan tetap bisa diupayakan, Bunda.
Itulah penjelasan mengenai ciri orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil menurut psikolog anak. Semoga informasinya bermanfaat, ya.











