Jakarta, CNBC Indonesia – Thailand kini berada di bawah bayang-bayang ancaman serius akibat perubahan iklim global. Sejumlah riset terbaru memberikan peringatan keras bahwa suhu di negara tersebut berpotensi melonjak drastis, hingga menyamai kondisi ekstrem Gurun Sahara dalam beberapa dekade mendatang.
Dilansir dari The Straits Times, Senin (20/4/2026), proyeksi ini didasarkan pada penelitian iklim yang menunjukkan bahwa pemanasan global tengah mendorong banyak wilayah di dunia keluar dari “zona nyaman” suhu yang selama ini menjadi penopang peradaban manusia.
Studi tersebut menggunakan konsep human climate niche, yakni rentang suhu tahunan ideal antara 11 hingga 15 derajat Celsius yang telah menjadi habitat alami manusia selama ribuan tahun. Namun, ketika suhu rata-rata tahunan menembus angka 29 derajat Celsius, kondisi tersebut dianggap sebagai batas ekstrem yang mengancam kelayakan hidup manusia. Saat ini, kondisi panas ekstrem tersebut baru dialami oleh sekitar 0,8% wilayah daratan Bumi, yang mayoritas berada di kawasan Gurun Sahara.
Thailand sendiri saat ini sudah berada di ambang batas tersebut dengan suhu rata-rata tahunan mencapai 26 derajat Celsius. Dalam skenario emisi tinggi, suhu ini diprediksi akan terus merangkak naik hingga melampaui ambang batas 29 derajat Celsius pada akhir abad ini. Jika skenario ini terjadi, Thailand tidak hanya akan menghadapi hari-hari yang lebih panas, tetapi juga pergeseran iklim struktural menuju kondisi yang jauh lebih ekstrem dan tidak ramah bagi aktivitas manusia.
Dampak nyata dari perubahan ini sebenarnya sudah mulai terasa. Setiap tahun, antara bulan Maret hingga Mei, Thailand rutin mencatatkan suhu di atas 40 derajat Celsius. Bahkan, pada gelombang panas tahun 2016, suhu di beberapa wilayah tercatat jauh melampaui rata-rata normal. Para peneliti memperingatkan bahwa di masa depan, gelombang panas ringan akan terasa seintens gelombang panas ekstrem saat ini, menjadikan kondisi panas ekstrem sebagai fenomena yang lumrah, bukan lagi kejadian langka.
Konsekuensi dari perubahan ini sangat luas, mencakup sektor kesehatan, produktivitas tenaga kerja, hingga ketahanan pangan. Suhu yang melonjak meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan penyakit menular, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pekerja lapangan.
Selain itu, panas ekstrem juga memukul produktivitas kerja luar ruangan, menurunkan hasil panen pertanian, serta memicu lonjakan konsumsi listrik akibat penggunaan pendingin udara (AC). Meski AC sering dianggap sebagai solusi, para ahli menegaskan bahwa langkah ini tidak cukup. Ketergantungan pada AC justru berisiko memperparah krisis jika sumber energinya masih berbasis bahan bakar fosil. Di Thailand, tantangan ini diperburuk dengan ancaman kekeringan, banjir yang lebih sering, serta kenaikan permukaan laut yang mengintai wilayah pesisir.
Oleh karena itu, tantangan bagi Thailand bukan sekadar beradaptasi dengan suhu panas, melainkan merombak total sistem kota, energi, kesehatan, hingga model ekonomi agar tetap mampu bertahan di tengah iklim yang semakin ekstrem.
Para peneliti menegaskan bahwa skenario terburuk ini bukanlah sesuatu yang tak terhindarkan. Namun, tanpa upaya serius untuk menekan emisi gas rumah kaca dan











