Jakarta – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-75 yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 mengingatkan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya bebas dari berbagai bentuk penjajahan. Menurutnya, penjajahan saat ini bukan lagi dalam bentuk kolonialisme atau imperialisme militer, melainkan penjajahan atas rasa takut terhadap kesehatan, kebodohan, dan kemiskinan.
Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-75 di Istana Merdeka berlangsung sederhana tanpa jamuan dan gelar pasukan, namun tetap khidmat. Bambang Soesatyo yang bertugas sebagai pembaca Teks Proklamasi dalam upacara tersebut menyatakan, “Indonesia harus tetap semangat dan yakin. Bahwa berbagai bentuk penjajahan, seperti kemiskinan dan kebodohan akan bisa kita atasi. Dengan semangat bersama dan gotong royong, kita bisa wujudkan Indonesia maju.”
Upacara di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/20) itu dihadiri Presiden Joko Widodo sebagai inspektur upacara, Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin, Menteri Agama Fachrul Razi sebagai pembaca doa, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Idham Azis. Para menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara lainnya mengikuti upacara secara virtual.
Bambang Soesatyo mengingatkan pidato Presiden Soekarno pada Konferensi Asia Afrika 1955 yang menyatakan bahwa kolonialisme kini berwujud penguasaan ekonomi, intelektual, dan material. Soekarno juga pernah memperingatkan pada pidato Hari Pahlawan 1961 bahwa perjuangan melawan penjajah lebih mudah dibandingkan perjuangan generasi masa depan yang harus melawan bangsa sendiri.
Bambang menambahkan, “Pendapat tersebut kini semakin nyata, dimana hanya segelintir orang saja yang memiliki akses terhadap kekayaan.” Ia merujuk pada laporan Global Wealth Report 2020 dari Boston Consulting Group yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi keempat di dunia. Meskipun kekayaan per orang meningkat enam kali lipat antara 2000-2016, setengah aset kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1 persen orang terkaya, dengan kesenjangan antara kaya dan miskin mencapai 49 persen.
Mantan Ketua DPR RI itu menegaskan bahwa peringatan detik-detik proklamasi bukan sekadar seremonial tanpa makna, melainkan pengingat bahwa Indonesia telah memasuki usia kemerdekaan ke-75 tahun. Ia mengajak generasi sekarang untuk berkorban demi masa depan bangsa, mencontoh filosofi petani pohon jati yang menanam bibit tanpa pasti menikmati hasilnya.
“Kita harus mencontoh filosofi petani pohon jati. Mereka rela menanam bibit jati, walaupun belum tentu akan menikmati hasil panennya. Itulah esensi sebenarnya jati diri bangsa Indonesia, menanam hari ini bukan semata untuk diri sendiri, melainkan untuk dinikmati anak bangsa esok hari,” tegas Bambang.
Selain itu, Bambang mengungkapkan bahwa dua proklamator Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta, telah menunjukkan kebijaksanaan dalam menjaga persatuan bangsa meski memiliki perbedaan pendapat. Contohnya, Bung Karno menginginkan negara kesatuan, sedangkan Bung Hatta menginginkan federal. Namun, saat BPUPKI menetapkan bentuk negara kesatuan pada 29 Mei 1945, Bung Hatta menerima dan mendukung keputusan tersebut demi kepentingan bangsa.
“Sikap berbesar hati demi kepentingan bangsa inilah yang patut kita contoh, agar bangsa Indonesia tak terjebak dalam konflik sosial,” pungkas Bambang Soesatyo.















