Jakarta – Forum yang melibatkan pemerintah, regulator, pelaku industri, akademisi, dan organisasi internasional digelar untuk membahas penguatan manufaktur vaksin, kesiapsiagaan pandemi, serta ketahanan rantai pasok kesehatan di kawasan ASEAN.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, pengalaman pandemi Covid-19 enam tahun lalu menunjukkan pentingnya kerja sama antarnegara dalam menghadapi krisis kesehatan global. “Pengalaman dari COVID-19 enam tahun yang lalu, tanpa ada kerja sama tidak akan bisa kita selesaikan dengan baik,” ujarnya.
Luhut menegaskan, penguatan sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai investasi di sektor kesehatan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita semua sepakat bahwa kita akan bisa tumbuh 7-8% di 2028,” katanya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan, negara-negara berpenduduk besar di ASEAN perlu memiliki kemampuan memproduksi obat, alat diagnostik, dan vaksin secara mandiri. Ia mengingatkan, saat pandemi terjadi, akses terhadap produk kesehatan dari negara lain bisa terhambat akibat kebijakan lockdown dan pembatasan ekspor. “Kalau ada pandemi lagi, harus memiliki ekosistem obat-obatan, diagnostik, dan vaksin yang kuat di negara ini untuk memenuhi kebutuhan 280 juta penduduk,” ujarnya.
Budi juga menilai kemampuan tersebut perlu dimiliki negara-negara ASEAN lain dengan populasi besar seperti Vietnam, Filipina, Thailand, dan Myanmar. Oleh karena itu, transfer teknologi kesehatan dan penguatan kapasitas produksi vaksin di kawasan menjadi hal yang penting.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu mengingatkan ASEAN agar tidak menunggu pandemi berikutnya untuk mulai melakukan persiapan. “Jangan tunggu sampai pandemi berikutnya baru kita panik lagi. Pada saat kita masih dalam keadaan yang belum ada pandemi, kita harus persiapkan diri,” katanya.
Mari menjelaskan, pembahasan forum tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas produksi vaksin, tetapi juga memperkuat rantai pasok kesehatan regional. Hal ini agar produk kesehatan yang diproduksi di satu negara dapat dengan cepat didistribusikan ke negara lain saat terjadi krisis kesehatan.
Selain itu, ASEAN didorong mempercepat kerja sama regulasi melalui mekanisme mutual recognition agreement (MRA) sehingga vaksin dan obat yang telah memperoleh persetujuan di satu negara dapat lebih mudah digunakan di negara anggota lainnya.
Menurut Mari, kerja sama riset dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan juga menjadi bagian penting dari agenda kawasan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi pandemi berikutnya. Ia berharap berbagai komitmen yang telah disepakati ASEAN dapat segera diimplementasikan dan tidak hanya berhenti pada tataran perencanaan.















