Jakarta – Bank Indonesia melalui Museum Bank Indonesia kembali menggelar Pameran D’Commentry bertajuk “Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi” yang resmi dibuka pada Rabu (3/6/2026). Pameran ini mengangkat kisah wayang orang dalam perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, khususnya terkait perkembangan bank sentral dan mata uang.
Wayang orang awalnya bersifat sakral dan hanya dinikmati kalangan keraton, sehingga masyarakat umum tidak bisa leluasa menikmatinya. Namun, tembok penghalang ini runtuh ketika seorang Tionghoa bernama Gan Kam berhasil mengkomersialisasi wayang orang sehingga masyarakat bisa menonton. Bahkan, saat krisis ekonomi 1930-an atau periode malaise, wayang orang menjadi hiburan yang sangat dinantikan warga.
Tim kurator pameran menuliskan bahwa di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, mulai dari maraknya PHK hingga menurunnya daya beli masyarakat, pertunjukan wayang orang justru mengalami peningkatan peminat. Bagi masyarakat, pertunjukan ini menjadi sarana hiburan untuk melepas penat dan stres di tengah situasi sulit. Sementara bagi pelaku dan penyelenggara, meningkatnya minat penonton menjadi cara bertahan hidup melalui pendapatan dari pagelaran.
Kenaikan minat masyarakat terhadap wayang orang kemudian dimanfaatkan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menunjukkan keberpihakan di tengah krisis ekonomi. De Javasche Bank, bank sentral era Hindia Belanda, mencetak uang kertas bergambar wayang orang untuk mengangkat identitas dan kesenian budaya lokal.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengungkapkan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian wayang orang dan kisah-kisah yang ditampilkan menjadi semakin penting agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, Bank Indonesia merasa perlu ikut menjaga dan memperkenalkan kembali budaya yang telah menjadi bagian panjang dari sejarah Indonesia tersebut.
Pameran “Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi” berlangsung di Museum Bank Indonesia dari 3 Juni hingga 30 Agustus 2026. Selain pameran, Museum Bank Indonesia juga menghadirkan berbagai kegiatan seperti workshop seni, walking tour, crafting workshop, treasure hunt, dan story telling yang akan diadakan secara terpisah dan diumumkan melalui media sosial Museum Bank Indonesia.
Pameran ini juga menampilkan berbagai kesenian pendukung wayang yang didatangkan langsung berkat kerja sama dengan Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran. Gusti Kanjeng Ratu Bendara yang mewakili Keraton Yogyakarta menyatakan bahwa pameran ini cukup unik karena tidak hanya memamerkan mata uang lama, tetapi juga mengkorelasikan sejarah mata uang tersebut dengan budaya. Ia berharap pameran temporer ini dapat memberikan pemahaman sejarah dari berbagai sisi kepada generasi muda.















