Jakarta – Mengenali seseorang yang berbohong tidaklah mudah. Namun, hal ini bisa diketahui melalui bahasa tubuh dan nada suara saat seseorang berbicara dalam percakapan.
Berbohong adalah perilaku yang umum terjadi. Penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang bertanggung jawab atas sebagian besar kebohongan yang diucapkan. Kondisi ini membuat kebohongan sulit dideteksi karena orang yang terbiasa berbohong cenderung lebih mahir menyembunyikan tanda-tandanya.
Menurut psikolog, di berbagai budaya, orang percaya bahwa menghindari kontak mata, gelisah, dan gagap adalah tanda pembohong. Namun, penelitian selama beberapa dekade hanya menemukan sedikit bukti yang mendukung keyakinan tersebut. Psikolog Maria Hartwig dari John Jay College of Criminal Justice menyatakan, “Salah satu masalah yang kita hadapi sebagai ahli kebohongan adalah bahwa semua orang berpikir mereka tahu bagaimana kebohongan bekerja.” Kepercayaan diri berlebihan ini bahkan telah menyebabkan kesalahan peradilan serius.
Meski begitu, ada beberapa tanda yang mungkin mengindikasikan seseorang sedang berbohong, antara lain: bersikap samar dan memberikan sedikit detail, mengulangi pertanyaan sebelum menjawab, mengulang cerita yang sama, berbicara dengan kalimat tidak lengkap, menjelaskan secara kronologis ketat, terdengar seperti mengulang naskah, gagal memberikan detail spesifik, tidak menjawab langsung pertanyaan sederhana, perilaku perawatan diri seperti bermain rambut atau menekan jari ke bibir, serta perubahan fisik seperti peningkatan keringat dan ketegangan otot.
Dalam mendeteksi kebohongan, bahasa tubuh sering menjadi fokus, seperti mengangkat bahu, kurang ekspresi, postur bosan, dan perilaku perawatan diri. Namun, psikolog Howard Ehrlichman menemukan bahwa gerakan mata tidak menandakan kebohongan, melainkan berkaitan dengan aktivitas kognitif dan mengakses memori jangka panjang.
Isyarat vokal juga penting. Ucapan yang tidak pasti dapat menunjukkan ketidaknyamanan dan rasa bersalah. Studi menemukan pembohong cenderung memodifikasi perilaku untuk mengurangi kemungkinan ketahuan. Isyarat verbal yang bergantung pada isi ucapan lebih menjanjikan untuk membedakan kebenaran dan kebohongan dibandingkan nada suara.
Orang yang berbohong biasanya menghindari menyampaikan detail penting untuk mengurangi risiko ketahuan. Berbohong membutuhkan usaha mental lebih besar karena harus mengingat cerita palsu, menjaga konsistensi, dan mengamati reaksi lawan bicara. Saat dihadapkan pada tugas berat, tanda kebingungan, jeda saat berbicara, atau perubahan perilaku lebih mudah terlihat.
Intuisi juga dapat membantu mengenali kebohongan. Dalam sebuah penelitian, peserta yang menonton video wawancara dengan orang berpura-pura menjadi tersangka pencurian sulit membedakan pembohong dan orang jujur secara sadar. Namun, respons bawah sadar mereka lebih sering mengaitkan pembohong dengan sifat tidak jujur, menunjukkan firasat bisa menjadi petunjuk tambahan.
Demikian cara mengenali seseorang berbohong dari bahasa tubuh hingga nada suara. Semoga informasi ini bermanfaat.















