Bandung – Sekitar 2,3 juta anak di Indonesia belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali. Tingginya angka zero dose ini disebabkan oleh kombinasi tantangan geografis, sosial, dan kepercayaan publik.
Kader Posyandu di Bandung menghadapi berbagai kesulitan dalam mengajak orang tua untuk mengimunisasi anaknya. Mereka bahkan kerap mendapat penolakan, dibentak warga, dan harus mendatangi rumah-rumah yang membuat petugas merasa takut demi mengejar anak-anak yang belum pernah diimunisasi.
Rini Sasri, Kader Posyandu Tela 9 Kota Bandung, mengatakan bahwa dirinya bersama petugas Puskesmas rutin melakukan sweeping dan kunjungan rumah untuk menjangkau anak zero-dose. Namun, banyak orang tua menolak imunisasi karena takut anak demam setelah vaksin.
“Tetap jawabannya ayahnya atau neneknya tidak mengizinkan. Karena nanti anak saya demam, anak saya sehat jadi sakit katanya,” ujar Rini saat media briefing di Bandung, Senin (11/5/2026) malam.
Rini mengaku pernah mendatangi rumah warga bersama petugas Puskesmas untuk imunisasi langsung, tetapi situasi di lapangan kadang membuat petugas khawatir. “Sampai Bidan Pena itu ketakutan, ‘Ini katanya yang kita datangi preman atau apa’,” katanya sambil tertawa.
Beberapa warga bahkan meminta kader dan petugas kesehatan datang langsung ke rumah jika ingin anaknya diimunisasi. “Kalau ingin anak kami diimunisasi, datang dong ke rumah kami,” kata Rini menirukan ucapan warga.
Meski demikian, para kader tetap berupaya mendekati warga secara persuasif. Posyandu juga mulai memberikan hadiah kecil bagi orang tua yang melengkapi imunisasi anaknya. “Ketika disampaikan ada reward-nya untuk yang imunisasinya lengkap, alhamdulillah ada sambutan daripada ibu balitanya,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan mencatat masih ada sekitar 2,3 juta anak Indonesia yang belum pernah mendapat imunisasi sama sekali atau zero-dose. Indonesia menempati posisi keenam dunia dengan jumlah anak zero-dose terbanyak.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan rendahnya cakupan imunisasi sempat terjadi saat pandemi Covid-19 karena layanan kesehatan lebih fokus pada penanganan pandemi. “Akibatnya memang terjadi beberapa tahun kemudian. Salah satu di antaranya adalah KLB campak yang terjadi beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.
Dante menjelaskan anak zero-dose adalah anak yang tidak pernah mendapat imunisasi seperti campak, polio, maupun DPT sehingga tubuh mereka tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit. “Mereka tidak pernah mendapatkan imunisasi campak, polio, DPT, sehingga mereka tidak terlindungi badannya, seperti telanjang,” katanya.
Menurut Dante, tantangan terbesar saat ini adalah hoaks vaksin dan kesalahpahaman soal efek samping imunisasi serta isu agama. “Ada beberapa hoaks di media, mereka tidak mau diimunisasi karena menganggap imunisasi itu punya efek samping,” ujarnya.
Pemerintah mengandalkan Posyandu dan kader kesehatan sebagai ujung tombak penjangkauan masyarakat. “Kalau kita mengandalkan puskesmas yang 10 ribu itu gak akan bisa mencapai ujung-ujung. Yang paling bisa sampai di ujung-ujung adalah Posyandu,” kata Dante.
Dante juga memuji dedikasi kader Posyandu yang bekerja sukarela membantu masyarakat. Sebagian kader bahkan telah mengabdi puluhan tahun tanpa mengharapkan imbalan besar. “Mereka bekerja di sini secara sukarela. Ini luar biasa gerakan dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat,” ujarnya saat meninjau Posyandu di Bandung.
Pemerintah juga memberikan apresiasi kepada kader Posyandu berprestasi melalui penghargaan dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional. “Posyandu teladan kita langsung undang ke Jakarta, kita ajak mereka untuk menerima penghargaan,” pungkasnya.















