Thessaloniki – Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa gen resistensi antibiotik sudah ada pada bayi sejak 72 jam pertama setelah lahir. Temuan ini dipaparkan dalam acara European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases Global 2026.
Para ahli menganalisis 150 sampel tinja pertama bayi yang dirawat intensif untuk memeriksa keberadaan gen resistensi antibiotik di usus. Peneliti utama dari Universitas Aristoteles Thessaloniki, Argyro Ftergioti, menyatakan bahwa meskipun keberadaan beberapa gen resistensi sudah diduga, jumlahnya yang tinggi di banyak sampel menjadi perhatian. “Hal ini terutama karena berkaitan dengan kekebalan terhadap antibiotik kuat seperti karbapenem,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan dua jenis gen, oqxA dan qnrS, ditemukan pada hampir seluruh sampel dengan tingkat paparan masing-masing 98 dan 96 persen. Kedua gen ini berkaitan dengan resistensi terhadap antibiotik yang umum digunakan.
Ftergioti menjelaskan bahwa paparan gen resistensi antibiotik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi ibu, metode persalinan, dan lingkungan rumah sakit setelah bayi lahir. Selain itu, tindakan medis seperti pemasangan kateter pada bayi juga dapat meningkatkan jumlah gen resistensi yang ditemukan.
Kondisi ini dianggap mengkhawatirkan dan menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan dalam merawat bayi baru lahir.
Selain itu, orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda kondisi medis tertentu pada bayi baru lahir. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain bayi tidak buang air kecil dalam 24 jam pertama, belum buang air besar dalam 48 jam pertama, suhu tubuh tidak normal (di atas 38°C atau di bawah 36,5°C), pernapasan lebih dari 60 kali per menit, warna kulit kebiruan yang tidak hilang, retraksi tulang rusuk saat bernapas, suara napas tidak normal seperti mengi atau mendengus, bau tidak sedap atau perdarahan pada tali pusar, kulit atau mata kuning, bayi terus menangis atau kejang, terlalu mengantuk dan sulit dibangunkan untuk menyusu, serta nafsu makan menurun atau sulit menghisap ASI.
Setiap bayi memiliki kondisi yang berbeda, sehingga penting bagi orang tua untuk selalu peka terhadap perubahan pada bayi. Informasi ini diharapkan dapat membantu orang tua dalam mengenali ciri-ciri kondisi bayi yang mengkhawatirkan sejak dini.















