Jakarta – Kebiasaan mengonsumsi alkohol yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari tidak mudah dihentikan. Namun, selama masa kehamilan, kebiasaan ini dapat dikendalikan secara alami.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di bioRxiv mengungkap bahwa hormon kehamilan yang terkait dengan morning sickness dapat membantu mengurangi konsumsi alkohol. Hormon tersebut adalah GDF15, yang berfungsi sebagai sinyal untuk mengatur metabolisme energi, nafsu makan, dan respons tubuh terhadap stres.
Seorang ilmuwan dari University of Southern California, Marlena Fejzo, mengatakan, “Saya rasa ini sangat menarik. Meskipun studi ini sebagian besar bergantung pada asosiasi dan tidak dapat membuktikan sebab dan akibat, namun penelitian mendukung gagasan bahwa GDF15 dapat mencegah seseorang mengonsumsi zat berbahaya secara berlebihan.”
Kadar GDF15 meningkat tajam selama awal kehamilan dan diduga berkontribusi pada munculnya keinginan muntah dan perasaan mual. Beberapa peneliti berpendapat bahwa GDF15 berevolusi sebagai mekanisme perlindungan untuk membantu calon ibu menghindari makanan tidak dikenal atau tidak sehat yang dapat membahayakan janin. Selain itu, GDF15 juga terdapat pada orang yang tidak hamil dan telah dikaitkan sebagai penekan nafsu makan.
Ahli endokrinologi dari University of Copenhagen, Matthew Gillum, dan rekannya melakukan studi untuk melihat pengaruh GDF15 terhadap konsumsi alkohol pada pengunjung festival musik Roskilde. Mereka mengukur kadar hormon dalam darah pria muda yang menghabiskan waktu seminggu dengan minum alkohol berlebihan dan mengonsumsi makanan cepat saji. Hasilnya menunjukkan peningkatan kadar hormon GDF15.
Gillum dan tim juga menganalisis data dari tiga orang yang menjalani pengujian sebelum dan sesudah menghadiri Oktoberfest. Setelah mengonsumsi sekitar tujuh gelas bir per hari selama tiga hari, kadar GDF15 ditemukan meningkat, meskipun hasil ini tidak signifikan secara statistik dan belum jelas apakah perubahan tersebut disebabkan oleh alkohol atau perilaku tidak sehat lainnya.
Peneliti juga menguji 12 mahasiswa kedokteran Denmark yang mengonsumsi alkohol setara lima minuman standar dalam sekali duduk. Hasilnya, tidak ada peningkatan kadar GDF15, yang mengindikasikan respons hormon terhadap alkohol mungkin terjadi setelah periode minum yang lebih lama.
Untuk menyelidiki lebih lanjut, tim mengukur kadar GDF15 pada orang dengan ketergantungan alkohol. Dibandingkan dengan orang dewasa tanpa kondisi tersebut, peminum berat memiliki kadar GDF15 rata-rata sekitar lima kali lipat. Gillum menyatakan, “Hasil penelitian ini konsisten dengan gagasan bahwa kadar GDF15 meningkat sebagai reaksi terhadap konsumsi alkohol kronis dan pada orang sehat yang membatasi konsumsi alkohol.”
Selain pada manusia, peneliti juga menggunakan tikus untuk menguji apakah GDF15 dapat mengurangi konsumsi alkohol secara spesifik. Tikus yang disuntik GDF15 menunjukkan penurunan nafsu makan dan minum, dengan penurunan keinginan minum alkohol lebih besar dibandingkan asupan makanan.
Gillum menambahkan bahwa temuan ini menarik untuk pengobatan ketergantungan alkohol. Saat ini, peneliti berencana mempelajari kadar GDF15, variasi genetik, dan perubahan pola makan pada ibu hamil untuk melihat hubungan antara jalur GDF15 dan keengganan terhadap alkohol. “Itu akan membantu memperkuat temuan yang kami miliki dalam studi ini,” ujarnya.
Demikian studi terbaru yang mengungkap peran hormon kehamilan dalam mengontrol kebiasaan minum alkohol.















