Jakarta – Diare merupakan kondisi serius yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini ditandai dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang mencapai tiga kali atau lebih dalam sehari, dengan feses yang lebih encer dari biasanya.
Gejala diare biasanya membaik dalam 2-3 hari tanpa perawatan medis. Namun, jika diare berlangsung lebih dari tiga hari, sebaiknya segera konsultasi ke dokter.
Sakit perut atau mulas menjadi salah satu gejala utama diare. Rasa mulas ini muncul akibat peradangan pada organ pencernaan yang memicu otot usus mendorong feses ke anus, sehingga menimbulkan rasa sakit dan dorongan untuk BAB.
Demam juga bisa muncul sebagai gejala diare, terutama jika disebabkan oleh infeksi. Demam merupakan respons tubuh melawan peradangan. Selain itu, demam dapat menandakan dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan saat diare.
Mual dan muntah sering menyertai diare. Kondisi ini biasanya dipicu oleh infeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus yang melepaskan racun, sehingga organ pencernaan memproduksi lebih banyak gas dan cairan, menimbulkan ketidaknyamanan.
Nafsu makan yang menurun juga menjadi tanda diare. Rasa sakit dan kembung di perut, serta mual yang terus-menerus, membuat seseorang enggan makan. Meski demikian, penting untuk tetap makan agar tubuh memiliki tenaga dan gejala diare dapat berkurang.
Perut kembung merupakan gejala lain yang sering muncul, terutama jika diare disebabkan intoleransi laktosa. Gas yang terbentuk dari fermentasi sisa karbohidrat, serat, atau protein yang tidak tercerna di usus kecil menyebabkan perut terasa penuh dan begah.















