Jakarta – Posisi plasenta pada ibu hamil memiliki peran penting dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi selama kehamilan. Namun, posisi plasenta berbeda-beda pada setiap ibu hamil dan biasanya baru diketahui saat pemeriksaan USG pada trimester kedua, sekitar usia kehamilan 18-22 minggu.
Menurut penjelasan Nebraska Medicine, posisi plasenta umumnya normal, tetapi dapat memengaruhi sensasi gerakan bayi serta cara pemantauan kehamilan dilakukan. Posisi plasenta adalah letak menempelnya plasenta pada dinding rahim setelah implantasi, yang biasanya diketahui melalui USG transabdominal pada usia kehamilan sekitar 20 minggu.
Ada beberapa posisi plasenta yang umum dan dianggap normal, antara lain:
- Anterior
Plasenta menempel di bagian depan rahim, berada di antara bayi dan dinding perut ibu. Bidan bersertifikat Diane Johnson menyatakan, “Biasanya, ibu-ibu tersebut merasakan gerakan lebih di sisi, atas, dan bawah perut mereka dibandingkan tepat di tengah.” Dampaknya, gerakan bayi bisa terasa lebih lembut dan tendangan bayi mungkin terasa teredam, sehingga ibu terkadang merasa lebih lama merasakan gerakan bayi. Meski sensasi gerakan berbeda, kondisi ini tetap normal selama perkembangan janin baik.
- Posterior
Plasenta berada di bagian belakang rahim, dekat tulang punggung ibu. Posisi ini membuat gerakan bayi terasa lebih jelas dan tendangan terasa lebih langsung, sehingga ibu lebih cepat menyadari gerakan janin.
- Fundal
Plasenta menempel di bagian atas rahim. Posisi ini tidak mengganggu gerakan bayi dan termasuk posisi yang paling netral serta tidak banyak memengaruhi proses persalinan.
- Lateral
Plasenta berada di salah satu sisi rahim, kiri atau kanan. Gerakan bayi bisa terasa berbeda tergantung posisi plasenta, namun posisi ini biasanya tidak menimbulkan komplikasi dan tetap dianggap normal.
Selain posisi normal tersebut, ada kondisi khusus yang perlu perhatian, yaitu plasenta letak rendah dan plasenta previa. Plasenta letak rendah berarti tepi plasenta berada dalam jarak 2 sentimeter dari bukaan serviks. Johnson menjelaskan, kondisi ini seringkali membaik seiring rahim membesar karena plasenta bergerak menjauh dari serviks. Evaluasi ulang biasanya dilakukan pada usia kehamilan 28-32 minggu.
Sedangkan plasenta previa terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh bukaan serviks bagian dalam. Kondisi ini berisiko menyebabkan perdarahan lebih tinggi dan memerlukan pemantauan ketat dengan USG transvaginal secara berkala setiap 4-8 minggu. Pasien dengan plasenta previa atau letak rendah mungkin disarankan beristirahat total untuk mengurangi risiko perdarahan.
Sebagian besar posisi plasenta tidak berbahaya dan tidak memengaruhi kehamilan secara signifikan. Namun, dokter akan memantau lebih ketat jika ditemukan plasenta letak rendah, plasenta previa, atau perubahan gerakan janin.
Mengenai persalinan, posisi plasenta normal biasanya tidak mengubah cara melahirkan. Namun, ibu dengan plasenta anterior cenderung memiliki bayi dengan posisi posterior, yang dapat membuat persalinan terasa berbeda. Sementara itu, plasenta previa mengharuskan persalinan melalui operasi caesar jika kondisi ini masih ada pada usia kehamilan 36 minggu atau lebih, karena melahirkan secara normal tidak aman.
Singkatnya, sebagian besar posisi plasenta adalah variasi normal yang tidak memerlukan penanganan khusus. Jika ditemukan plasenta letak rendah atau plasenta previa pada pemeriksaan USG anatomi, pemantauan lanjutan diperlukan, dan kebanyakan kondisi ini akan membaik sebelum persalinan.















