Jakarta – Fenomena presenteeism di dunia kerja semakin marak terjadi di era budaya kerja modern yang serba cepat. Presenteeism adalah kondisi di mana karyawan merasa harus selalu terlihat sibuk, aktif, dan tersedia agar dianggap produktif oleh atasan maupun rekan kerja.
Tekanan untuk membalas chat kerja dengan cepat, tetap online sepanjang hari, dan terus memantau e-mail di luar jam kantor menjadi bentuk presenteeism yang paling sering ditemui saat ini. Istilah presenteeism awalnya muncul pada pertengahan 1990-an untuk menggambarkan pekerja yang tetap masuk kantor saat sakit karena takut mendapat konsekuensi jika mengambil cuti. Namun, seiring perkembangan teknologi dan pola kerja digital, maknanya meluas.
Kini, presenteeism juga mencakup perilaku bekerja berlebihan demi ‘terlihat bekerja’, bukan semata-mata menghasilkan kinerja terbaik. Fenomena ini semakin terasa sejak pandemi COVID-19 mengubah pola kerja menjadi hybrid dan remote working. Banyak pekerja mengaku kesulitan memisahkan kehidupan pribadi dengan pekerjaan karena komunikasi kantor dapat berlangsung kapan saja lewat aplikasi pesan instan maupun platform kolaborasi digital.
Presenteeism modern sering disebut sebagai digital presenteeism. CEO Qatalog, Tariq Rauf, menyebut digital presenteeism sebagai perilaku pekerja yang berusaha memperlihatkan diri selalu online meski sebenarnya tidak selalu produktif. “Banyak karyawan takut dicurigai tak bekerja cukup keras sehingga memilih mempertahankan kebiasaan ‘selalu aktif’ di ruang kerja digital,” ujarnya.
Laporan gabungan Qatalog dan GitHub menemukan bahwa 54 persen pekerja berbasis pengetahuan merasa tertekan untuk menunjukkan kepada atasan dan rekan kerja bahwa mereka sedang online pada jam tertentu. Karyawan rata-rata menghabiskan tambahan sekitar 67 menit per hari hanya untuk membuat pekerjaan mereka terlihat oleh orang lain. Budaya ini menggeser ukuran produktivitas dari kualitas hasil kerja menjadi seberapa cepat seseorang merespon pesan atau seberapa sering terlihat aktif di platform komunikasi kantor.
Peter Brown dari PwC mengatakan, “Tanpa pemisahan fisik yang jelas antara pekerjaan dan rumah, seseorang mungkin merasa kesulitan untuk melepaskan diri dan menetapkan batasan yang jelas.”
Para ahli menilai presenteeism bukan sekadar kebiasaan kerja yang kurang sehat, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja. Stephen Bevan dari Institute for Employment Studies menyatakan bahwa presenteeism banyak terjadi di perusahaan yang menganggap cuti atau istirahat sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, karyawan tetap memaksakan diri bekerja saat sakit dan mengalami kelelahan berkepanjangan.
Budaya ‘always on’ membuat karyawan sulit benar-benar beristirahat. Banyak yang masih membalas e-mail kerja saat makan malam bersama keluarga atau mengecek notifikasi kantor hingga larut malam. Brown menambahkan, “Dalam banyak kasus memang menyebabkan jam kerja yang lebih panjang, peningkatan beban kerja, dan kesulitan untuk beristirahat atau cuti yang semuanya berkontribusi pada presenteeism.”
Peneliti budaya kerja Anne Helen Petersen menyebut presenteeism performatif muncul ketika keterlibatan yang terlihat lebih dihargai dibanding kualitas pekerjaan. Perilaku aktif di percakapan online atau terus hadir di kantor bisa menjadi toksik jika dilakukan semata-mata agar dianggap rajin.
Pandemi COVID-19 memperparah fenomena presenteeism. Penelitian akademis tahun 2021 menunjukkan bahwa meningkatnya jejak digital pekerja menjadi salah satu penyebabnya. Meski pandemi membawa kerja fleksibel dan work from home, budaya presenteeism justru semakin mengakar karena hilangnya batas jelas antara rumah dan kantor.
Lucy Kallin dari Catalyst mengatakan, “Banyak orang kehilangan momen untuk beralih mode setelah bekerja karena tidak lagi memiliki perjalanan pulang dari kantor.” Kondisi ekonomi yang tidak menentu juga memperparah situasi. Sebagian pekerja merasa harus terus menunjukkan dedikasi agar posisi mereka tetap aman, sementara menurunnya rasa percaya antara perusahaan dan karyawan membuat banyak pekerja takut kontribusinya tidak dihargai jika tidak terus terlihat aktif.
Para pakar menilai solusi presenteeism harus dimulai dari budaya perusahaan. Atasan dan manajemen perlu berhenti memuji kebiasaan lembur atau sikap ‘selalu online’ sebagai simbol loyalitas. Perusahaan disarankan lebih fokus pada hasil kerja dibanding aktivitas yang terlihat di permukaan.
Budaya kerja asynchronous atau async-first menjadi salah satu pendekatan yang mulai diterapkan sejumlah perusahaan teknologi, yakni menilai karyawan berdasarkan output dan nilai kerja yang dihasilkan, bukan kecepatan membalas pesan. Kallin menegaskan, “Para pemimpin senior perlu berhenti memuji orang-orang karena ‘selalu siaga’ atau bekerja lembur.”
Penetapan jam kerja yang jelas juga penting agar karyawan memiliki batas tegas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Pemimpin perusahaan perlu memberi contoh dengan tidak mengirim pesan di luar jam kerja atau menuntut respons instan setiap saat.
Meski budaya presenteeism masih banyak ditemukan di berbagai industri, terutama sektor keuangan, teknologi, dan konsultasi, perubahan pola kerja pascapandemi membuka peluang untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat. Fokus pada produktivitas nyata, kepercayaan, dan keseimbangan hidup menjadi kunci agar pekerja tidak lagi merasa harus selalu online demi dianggap bekerja.















