Jakarta – Kebiasaan pulang malam lalu makan besar, sering mengonsumsi minuman manis, hobi gorengan, dan minim aktivitas fisik kerap dianggap normal dalam rutinitas sehari-hari. Namun, pola hidup tersebut dapat meningkatkan kadar kolesterol dan gula darah secara perlahan.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada berat badan dan risiko diabetes, tetapi juga dapat menyerang hati dan memicu penumpukan lemak di organ tersebut, yang dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) atau fatty liver. Sayangnya, gangguan hati ini sering berkembang tanpa gejala jelas sehingga sulit disadari hingga kondisinya cukup serius.
Dr. Kaka Renaldi, Sp.PD-KGEH, FINASIM dari Mayapada Hospital Kuningan menjelaskan bahwa gangguan hati biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi metabolik yang berkembang perlahan tanpa disadari. Ia mengatakan, “Ketika kolesterol dan gula darah tidak terkontrol dalam jangka waktu tertentu, dampaknya tidak hanya memengaruhi metabolisme secara umum, tetapi juga fungsi hati. Karena itu, perubahan pada profil metabolik sebaiknya sudah menjadi sinyal untuk mulai memperhatikan kondisi hati sejak dini.”
Menurutnya, pada tahap awal fatty liver sering tidak menimbulkan keluhan khas sehingga banyak orang tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa. Akibatnya, perubahan di dalam tubuh sering tidak terdeteksi sejak awal dan kondisi ini baru diketahui setelah berkembang lebih jauh.
Lebih lanjut, Dr. Kaka menekankan pentingnya memahami keterkaitan antara kolesterol, gula darah, dan kesehatan hati. Kenaikan trigliserida, gula darah yang tidak stabil, berat badan bertambah, atau lingkar perut membesar bisa menjadi tanda metabolisme tubuh tidak berjalan optimal.
Ia menambahkan, “Menjaga kolesterol dan gula darah tetap stabil bukan hanya soal mencegah penyakit jantung atau diabetes, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan hati.”
Untuk mendukung deteksi dini dan pengelolaan kondisi tersebut, Mayapada Hospital Kuningan menyediakan layanan kesehatan hati, gangguan metabolik, dan pengelolaan berat badan yang fokus pada risiko obesitas, diabetes, dislipidemia, dan sindrom metabolik. Pemeriksaan seperti USG abdomen, CT scan, MRI, dan endoskopi tersedia untuk evaluasi kondisi secara lebih akurat.
Layanan ini didukung oleh tim dokter multidisiplin dan fasilitas modern seperti USG elastografi untuk pemeriksaan hati non-invasif serta Total Body Matrix Assessment (TBMA) untuk evaluasi komposisi tubuh dan indikator metabolik. Seluruh layanan tersebut merupakan bagian dari Gastrohepatology Center yang tersedia di unit Mayapada Hospital di Jakarta Selatan (Lebak Bulus dan Kuningan Rasuna Said), Tangerang, Bogor, Surabaya, Bandung, dan akan segera hadir di Jakarta Timur.
Masyarakat dapat menghubungi Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, atau melalui aplikasi MyCare untuk informasi lebih lanjut. Melalui aplikasi ini, masyarakat juga dapat mengakses informasi kesehatan dari dokter Mayapada Hospital lewat fitur Health Articles & Tips serta fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).















