Jakarta – Michelle Obama mengenang perjuangannya menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) yang penuh dengan keguguran berulang dan rasa putus asa. Mantan ibu negara ini mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi calon orang tua bahwa proses memiliki anak sering kali diwarnai emosi, tekanan, dan harapan.
Michelle dan mantan Presiden Barack Obama akhirnya memilih IVF untuk memiliki kedua putri mereka, Malia dan Sasha. Keputusan menjalani IVF pada usia 34 tahun muncul setelah Michelle menghadapi kenyataan pahit tentang kesehatan reproduksinya, termasuk keguguran yang dialaminya.
Menurut Michelle, “Hal terburuk yang kita lakukan satu sama lain sebagai perempuan adalah tidak berbagi kebenaran tentang tubuh kita dan cara kerjanya.” Setelah keguguran pertama, pasangan ini menyadari bahwa usia menjadi faktor penting sehingga mereka mencari alternatif lain melalui IVF. Proses tersebut melibatkan beberapa siklus suntikan dan prosedur yang menguras fisik dan emosi hingga Michelle berhasil hamil.
Dalam wawancara, Michelle mengungkapkan bahwa keguguran yang dialaminya sekitar 20 tahun lalu membuatnya merasa sedih, bingung, dan kesepian. Ia merasa gagal karena tidak mengetahui bahwa keguguran cukup umum terjadi pada perempuan. “Kita merasa seolah-olah kita melakukan sesuatu yang salah,” ujarnya.
Michelle juga membahas pengalaman kegugurannya dalam memoar Becoming yang terbit pada 2018, menggambarkan guncangan emosional dari harapan yang berubah menjadi patah hati. Ia menulis bahwa setelah mendapatkan hasil tes kehamilan positif, keguguran yang terjadi beberapa minggu kemudian membuatnya merasa tidak nyaman secara fisik dan menghancurkan optimisme yang mereka rasakan.
Keguguran memang sering terjadi pada awal kehamilan. Penelitian dalam jurnal StatPearls menyebutkan bahwa sekitar 10 hingga 20 persen kehamilan yang terdeteksi dapat berakhir dengan keguguran spontan, dengan berbagai faktor penyebab seperti kelainan kromosom dan kondisi kesehatan tertentu.
Setelah mengalami keguguran, Michelle dan suaminya memutuskan menjalani program IVF. Prosedur ini mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium sebelum embrio ditanam kembali ke rahim. Melalui IVF, Michelle berhasil hamil dan melahirkan Malia dan Sasha.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), IVF merupakan terapi fertilitas yang umum dipilih pasangan dengan gangguan kesuburan, termasuk usia maternal yang lebih matang atau riwayat infertilitas. Direktur medis Northwestern Medicine Fertility and Reproductive Medicine Highland Park, Eve Feinberg, menyatakan bahwa “Bayi tabung adalah proses yang intens dengan banyak kunjungan ke dokter.”
Perasaan putus asa selama menjalani IVF ternyata umum terjadi. Proses ini tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga emosional. Banyak perempuan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi selama program hamil. Psikolog Klinis Tara M. Cousineau dan Alice D. Domar dalam artikel Psychological impact of infertility menuliskan bahwa infertilitas merupakan pengalaman emosional yang naik turun dengan beban psikologis nyata bagi individu dan pasangan.
Beberapa penelitian di jurnal Human Reproduction menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani IVF cenderung mengalami tingkat stres emosional lebih tinggi dibanding populasi umum, terutama setelah kegagalan siklus IVF atau riwayat keguguran berulang.
Michelle juga menekankan pentingnya dukungan dan komunikasi bersama pasangan selama proses IVF. Dukungan emosional menjadi kunci untuk bertahan menghadapi stres, isolasi, dan kelelahan psikologis yang sering dialami pasangan selama perawatan kesuburan.















