Jakarta – Kehamilan memicu berbagai perubahan pada tubuh, termasuk kondisi rambut. Banyak ibu hamil melaporkan rambut mereka menjadi lebih tebal, berkilau, atau justru mengalami kerontokan.
Perubahan rambut selama kehamilan dianggap wajar dan disebabkan oleh fluktuasi hormon. Gretchen Friese, ahli trikologi dan penata rambut bersertifikat di Bosley MD/Keranique, menyatakan bahwa rambut sering tumbuh lebih cepat selama kehamilan. “Kondisi itu terjadi karena kadar estrogen yang tinggi dan fase pertumbuhan rambut yang lebih lama. Umumnya, lebih sedikit rambut yang rontok selama waktu ini, itulah sebabnya rambut tampak lebih tebal,” ujarnya.
Dokter kulit bersertifikat di Los Angeles, Maryam Safaee, MD, FAAD, menambahkan bahwa peningkatan pertumbuhan rambut selama hamil disebabkan oleh hormon. “Peningkatan estrogen memperpanjang fase pertumbuhan rambut, yang juga dikenal sebagai fase anagen. Hal ini menyebabkan rambut menjadi lebih tebal dan lebat,” jelasnya.
Selain rambut yang lebih tebal, banyak ibu hamil merasakan rambutnya lebih berkilau karena cenderung berminyak. Namun, ada juga yang mengalami kulit kepala gatal. Penata rambut Anya Martin menjelaskan, “Jika hormon tidak seimbang, kita mungkin akan melihat efek yang kurang diinginkan seperti kekeringan, rambut berminyak, atau kulit kepala yang gatal dan iritasi. Jika rambut berminyak berlebih atau kulit kepala sensitif, biasanya itu karena progesteron yang berlebihan.”
Dua hormon utama yang berperan selama kehamilan adalah estrogen dan progesteron. Safaee menuturkan, “Kadar estrogen meningkat drastis selama kehamilan dan merupakan pendorong utama di balik pertumbuhan rambut yang luar biasa. Hormon ini juga memperpanjang fase anagen atau fase pertumbuhan siklus rambut dan mengurangi jumlah folikel yang memasuki fase telogen atau fase kerontokan.”
Sementara itu, progesteron yang meningkat dapat menurunkan konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), androgen yang mengecilkan folikel rambut dan menyebabkan kerontokan. “Itulah sebabnya perempuan tidak banyak kehilangan rambut selama kehamilan,” tambah Safaee.
Perubahan rambut selama hamil perlu mendapat perhatian, terutama dalam penggunaan bahan kimia perawatan rambut yang dapat memengaruhi janin. Safaee menyarankan, “Saat hamil, minimalkan paparan bahan kimia keras dan praktikkan perawatan rambut yang lembut.” Ia juga menambahkan bahwa pewarna rambut umumnya aman selama kehamilan, tetapi sebaiknya dibatasi sampai trimester pertama dan tidak lebih dari empat kali selama kehamilan.
Penata rambut Anya Martin menyarankan ibu hamil memilih produk rambut bebas sulfat dan paraben serta menghindari bahan yang dapat mengiritasi kulit kepala. “Semakin bersih semakin baik. Bahan seperti ammonia juga bisa mengiritasi selama periode ini. Jika masih mewarnai rambut, mintalah penata rambut menggunakan pewarna bebas ammonia. Jika tidak, cukupi kebutuhan cairan, diet kaya nutrisi, dan lakukan pemangkasan rutin untuk menjaga kesehatan rambut,” ujarnya.
Rambut tebal selama kehamilan biasanya tidak bertahan lama. Banyak ibu hamil merasa stres saat rambut mulai rontok setelah melahirkan. Lebih dari 90 persen perempuan mengalami kerontokan rambut pasca persalinan, yang dimulai sekitar dua hingga empat bulan setelah melahirkan dan dapat berlangsung antara enam bulan hingga satu tahun.
Safaee menjelaskan, “Sangat umum mengalami kerontokan rambut pasca persalinan atau telogen effluvium. Peningkatan hormon yang intens selama kehamilan membuat rambut tetap dalam fase pertumbuhan. Namun, setelah melahirkan, terjadi penurunan hormon secara tiba-tiba, dan rambut-rambut ini memasuki fase rontok.”
Perubahan rambut selama kehamilan dan setelah melahirkan adalah kondisi normal. Ibu hamil disarankan tidak perlu stres dan tetap merawat rambut agar tetap sehat.















