Jakarta – Setiap tahun, lebih dari 357 ribu warga Indonesia meninggal dunia akibat stroke, yang setara dengan 21% dari total kematian nasional. Data ini menempatkan Indonesia pada posisi ke-11 dunia dalam kasus kematian akibat stroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan stroke sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Para ahli mengungkapkan, tingginya angka kematian stroke tidak hanya disebabkan oleh faktor risiko, tetapi juga karena banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan. Seorang ahli mengatakan, “Beberapa jam pertama setelah serangan stroke, tindakan cepat dokter dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan otak.”
Setelah penanganan awal, pasien biasanya menjalani fisioterapi dan mengonsumsi obat-obatan. Namun, banyak pasien yang mengalami stagnasi dalam pemulihan, di mana kemampuan motorik atau bicara tetap terbatas meski sudah berusaha berbulan-bulan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik sel otak yang sulit memperbaiki diri secara alami setelah kerusakan akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Pendekatan medis konvensional selama ini lebih fokus pada pencegahan stroke berulang, seperti mengontrol tekanan darah dan mengencerkan darah, serta memaksimalkan fungsi tubuh yang tersisa. Sayangnya, belum ada obat yang mampu menghidupkan atau memperbaiki jaringan otak yang sudah mati.
Inovasi modern berupa Regenerative Therapy atau terapi stem cell kini membawa harapan baru. Seorang dokter functional medicine di Seraphim Medical Center Gading Serpong menjelaskan bahwa terapi ini mendukung kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki dan meregenerasi dirinya sendiri. Ia menjelaskan, “Terapi ini dirancang untuk memperbaiki atau menggantikan sel, jaringan, atau organ yang rusak agar bisa berfungsi kembali seperti semula.”
Terapi ini juga berpotensi meningkatkan kualitas tidur, keseimbangan hormon, dan memperlambat proses penuaan. Melalui pemanfaatan sel punca atau terapi eksosom, terapi ini melatih sel yang tersisa dan memperbaiki lingkungan mikro di otak yang rusak. Material biologis aktif yang disuntikkan ke dalam tubuh melepaskan zat kimia khusus yang memicu pembentukan pembuluh darah baru untuk meningkatkan suplai oksigen ke otak.
Selain itu, terapi ini merangsang plastisitas otak, yaitu kemampuan sel saraf membentuk koneksi baru, serta menekan peradangan kronis yang menghambat pemulihan pasca-stroke. Keunggulan terapi regeneratif antara lain minim risiko penolakan karena menggunakan material biologis dari tubuh pasien sendiri, prosedur yang hanya berupa suntikan lokal tanpa sayatan besar, serta waktu pemulihan yang singkat.















